Share it

Senin, 13 Juni 2011

AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

Pengertian Muhkamât dan Mutasyâbihât :
Kata Muhkamât adalah bentuk plural dari kata muhkam yang merupakan isim ‎maf’ul (passive participle) dari kata ahkama dan berasal dari akar kata dasar hakama yang ‎artinya: mengatur, memimpin, memerintahkan, mendekritkan, menitahkan, memutuskan. ‎Kata-kata yang berasal dari akar kata hakama disebut sebanyak 210 kali dalam al-Qur’an. ‎
Kata Mutasyâbihât berasal dari kata dasar syabaha yang artinya: mirip, sama, serupa. Kata-‎kata yang berasal dari akar kata syabaha disebut sebanyak 12 kali, disebut sebanyak tiga ‎kali dalam surat Al-Baqarah; dua kali dalam surat Ali Imrân; surat An-Nisâ’; empat kali ‎dalam surat Al-An’âm; surat Ar-Ra’du; dan surat Az-Zumâr.
Sedangkan ayat al-Qur’an ‎yang berbicara mengenai muhkamat dan mutasyabihat terdapat dalam surat Ali-Imran (3): 7‎
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya :
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara ‎‎(isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan ‎yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam ‎hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-‎ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ‎ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan ‎orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-‎ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat ‎mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”‎ (QS. Ali-Imran : 7)
Ayat di atas memberikan ilustrasi bahwa ayat-ayat yang terkandung dalam Al-‎Qur’an terbagi menjadi dua kategori yaitu Muhkamat dan Mutasyabihat. Ayat-ayat ‎muhkamat adalah (‎أم الكتاب ‏‎ ) ummul kitâb/induk kitab suci ini. Kata ( ‎أم‎ ) um terambil dari ‎akar kata yang bermakna “dituju/menjadi arah”. Ibu dinamai um karena ibu adalah arah ‎yang dituju oleh anak. Imam adalah arah yang dituju oleh yang mengikutinya, sehingga ‎mereka tidak melangkah sebelum sang imam melangkah. Makmum tidak boleh ruku’ ‎sebelum imamnya ruku’, tidak pula sujud sebelum sang imam sujud. Ayat-ayat al-Qur’an ‎yang masuk dalam Um al-Kitab, atau dengan kata lain ayat-ayat muhkamat, adalah yang ‎kepadanya merujuk segala ketetapan serta menjadi penjelas terhadap ayat-ayat lain yang ‎bersifat mutasyabihat, yakni yang samar artinya, sehingga memerlukan keterangan dan ‎penjelasan tambahan. ‎
Kata um berbentuk tunggal, sedang ayat-ayat muhkamat banyak, dan karena itu ayat ‎ini menunjuk ayat-ayat tersebut dalam bentuk jamak ( ‎هن‎ ) hunna/mereka untuk ‎menunjukkan bahwa kedudukannya sebagai induk bukan dalam keberadaan ayat-ayat itu ‎secara berdiri sendiri, tetapi secara keseluruhan. Al-Biqa’i menulis bahwa, “karena sesuatu ‎yang muhkam merupakan sesuatu yang sangat jelas sahingga keterikatan satu ayat dengan ‎yang lain atau pemahaman arti satu ayat dengan ayat yang lain sedemikian mudah, maka ‎ayat-ayat yang muhkam yang banyak itu diperlukan sebagai satu kesatuan, dan dengan ‎demikian ayat-ayat mutasyabih dengan mudah pula dirujuk maknanya kepada ayat-ayat ‎muhkam itu. Ini mudah bagi yang pengetahuannya mendalam serta tulus niatnya”. ‎
Ayat-ayat Muhkamât yaitu yang kandungannya jelas, sehingga hampir-hampir tidak ‎lagi dibutuhkan penjelasan tambahan untuknya, atau yang tidak mengandung makna selain ‎yang terlintas pertama kali dalam benak. Ada juga yang memahami ayat-ayat muhkamât ‎dalam arti ayat-ayat yang mengandung perintah melaksanakan sesuatu atau larangan. ‎
Sedangkan ayat-ayat Mutasyâbihât yaitu bila ada ayat-ayat yang serupa (makna) ‎dengan yang lain. Kata ini (mutasyâbih) dalam penggunaannya, seringkali menunjuk ‎kepada keserupaan dua hal atau lebih yang menimbulkan kesamaran dalam membedakan ‎ciri masing-masing. Jadi yang dimaksud dalam hal ini adalah ayat-ayat yang mengandung ‎kesamaran dalam maknanya.
Dinukil dari Al Husein bin Muhammad bin Habib an Naisaburiy bahwa ada tiga pendapat di dalam permasalahan ini :
1) Bahwa Al-Qur’an seluruhnya adalah muhkamat, sebagaimana firman-Nya :
الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِير
Artinya :
“(Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya adalah muhkamat.” (QS. Huud : 1)

2) Bahwa Al Qur’an seluruhnya adalah mutasyabihat berdasarkan firman-Nya :
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا
Artinya :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang mutasyabihat.”
(QS. Az-Zumar : 23)

3) Bahwa Al Qur’an sebagiannya adalah muhkamat, sedangkan sebagiannya lagi mutasyabihat, inilah yang paling benar, berdasarkan firman-Nya :
وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
Artinya :
“Dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.” (QS. Ali-Imran : 7)

Tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat ini, Al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan sebagai berikut :
1) Ihkam berarti kukuh, ihkamul kalam.
Perkataan yang kukuh dan terang yang berarti perkataan untuk membedakan kejujuran dari kedustaan di dalam suatu berita, petunjuk dari kesesatan di dalam berbagai perintah. Al-Qur’an muhkam dengan makna ini, terang tanpa ada kesamaran di dalamnya bagi setiap orang, firman Allah swt :
الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِير
Artinya :
“Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya muhkamat serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.”
(QS. Huud : 1)

2) Tasyabuh di dalam suatu perkataan digunakan untuk keserupaan atau kesesuaian.
Artinya bahwa sebagiannya membenarkan sebagian lainnya di dalam perintah-perintahnya, tidak memerintahkan sesuatu di dalam satu tempat namun melarangnya di tempat yang lain, sebagiannya membenarkan sebagian lainnya di dalam berita-beritanya, apabila dia memberitahu tentang terjadinya sesuatu di satu tempat namun tidak memberitahukan penafiannya di tempat yang lainnya. Al-Qur’an seluruhnya mutasyabihat dengan makna ini namun tidak ada pertentangan dan kekacauan di dalamnya, firman-Nya :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
(QS. An-Nisa : 82)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا
Artinya :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang mutasyabihat.”
(QS. Az-Zumar : 23)
Mutasyabihat dalam makna ini tidaklah bertentangan dengan ihkam dengan maknanya yang umum bahkan salah satunya membenarkan yang lainnya dan tidak saling bertentangan.

3) Tasyabuh dalam arti yang khusus.
Adalah memiliki keserupaan terhadap sesuatu dari satu sisi namun berbeda dari sisi yang lainnya. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mutasyabihat dengan makna ini yaitu mengandung berbagai dalil yang bersesuaian dengan ayat-ayat muhkam dan juga mengandung berbagai dalil yang bertentangan dengannya, sehingga maksud darinya menjadi samar di sebagian manusia.
Barangsiapa yang mengembalikan mutasyabihat dengan makna khusus ini kepada ayat-ayat yang muhkamat yang sudah jelas, maka akan tampaklah maksud dari ayat-ayat mutasyabihat itu dan dapat membantunya mendapatkan kebenaran. Dan barangsiapa dari kalangan ulama yang berhenti pada ayat-ayat mutasyabihat itu dan tidak mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat yang sudah terang maka sungguh dirinya telah berada di dalam suatu kebatilan dan mengalami kesesatan dari jalan yang lurus, seperti orang-orang Nasrani di dalam argumentasi mereka tentang Isa adalah anak Allah. Allah mengatakan tentangnya bahwa ia adalah “kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam” dan meninggalkan mereka (orang-orang Nasrani) untuk kembali kepada firman-Nya tentang Isa as.

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ
Artinya :
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian).”
(QS. Az-Zukhruf : 59)
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Artinya :
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.” (QS. Al-Imran : 59)


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾
Artinya :
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas : 1 -3)

Terhadap tasyabuh dalam arti khusus dan ihkam yang khusus ini serta adanya perselisihan manusia di dalam sikap mereka terhadapnya telah ditunjukkan oleh firman-Nya :
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya :
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
(QS. Al Imran : 7)
Dengan ayat itu dapat diketahui bahwa Al-Qur’an adalah penjelas segala sesuatu, berisi petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin dan tampaklah keserasian diantara nash-nashnya dan bahwasanya ar Rosikhun adalah orang-orang yang menginginkan kebenaran lalu mengembalikan ayat-ayat yang mutasyibihat itu kepada ayat-ayat muhkamat dalam memberikan keputusan tentangnya sehingga menghilangkan kesamaran yang ada di dalam ayat-ayat mutasyabihat yang memiliki makna khusus itu dan bisa diketahui maksudnya.
Hal ini berbeda dengan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit keraguan dan kesesatan yang membawa kepala-kepala mereka mengikuti hawa nafsu mereka cenderung kepada nash-nash yang mutasyabihat tanpa mengembalikannya kepada yang muhkamat dikarenakan menginginkan fitnah, menginginkan kerancuan ditengah-tengah manusia serta menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. (Al Lajnah ad Daimah Lil Buhut wal Ifta’ juz VI hal 55 – 58)


Dan ketika ayat-ayat mutasyabihat itu tidak dijelaskan atau diterangkan oleh dalil-dalil yang qoth’i maka hendaklah mengimaninya dan tidak memberikan pena’wilan atasnya, sebagaimana penuturan Imam az Zarkasyi, ”Adapun ayat-ayat muhkamat maka diamalkan sedangkan yang mutasyabihat hendaklah diimani, tidak mena’wilkannya apabila tidak ada dalil qoth’i yang menjelaskan tentangnya.”

Kesimpulan :
1. Muhkamât yaitu yang kandungannya jelas, sehingga hampir-hampir tidak lagi ‎dibutuhkan penjelasan tambahan untuknya, atau yang tidak mengandung makna selain ‎yang terlintas pertama kali dalam benak. Ada juga yang memahami ayat-ayat muhkamât ‎dalam arti ayat-ayat yang mengandung perintah melaksanakan sesuatu atau larangan. ‎
2. Mutasyâbihât yaitu yang serupa (makna) dengan yang lain. Kata ini (mutasyâbih) dalam ‎penggunaannya, seringkali menunjuk kepada keserupaan dua hal atau lebih yang ‎menimbulkan kesamaran dalam membedakan ciri masing-masing.‎
3. Dalam al-Qur’an Allah menyinggung tentang muhkam dan mutasyabih, namun tidak ‎ada penjelasan lebih lanjut mengenai kategorisasi ayat-ayat muhkamat dan ‎mutasyabihat.‎
4. Sebagian ulama berpendapat bahwa seluruh ayat al-Qur’an adalah muhkamat, sebagian ‎berpendapat bahwa seluruhnya adalah mutasyabihat.




.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar