Share it

Senin, 30 Januari 2012

ANALISIS KUALITATIF BIOMOLEKUL (KARBOHIDRAT, PROTEIN & LEMAK)

BAB I TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN 1.1 Judul Percobaan Karbohidrat 1.2 Tujuan Percobaan Untuk mengidentifikasi suatu sampel terhadap sifat-sifat dari karbohidrat. 1.3 Prinsip Percobaan Berdasarkan sifat karbohidrat yang bereaksi dengan beberapa reagensia tertentu. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karbohidrat Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton atau turunan. Keduanya dengan rumus umum (Cn(H2O)m). Dimana n= m 1 atau kelipatan bilangan bulat lainnya. Karbohidrat yang berasal dari makanan dalam tubuh mengalami perubahan atau metabolisme. Hasil metabolisme karbohidrat antara lain glukosa yang terdapat dalam darah, sedangkan glikogen adalah karbohidrat yang disintetis dari hati dan digunakan oleh sel-sel pada jaringan otot sebagai sumber energi. jadi ada bermacam-macam senyawa yang termasuk dalam golongan karbohidrat ini. Dari contoh tadi kita dapat mengetahui bahwa amilum atau pati, selulosa, glikogen, gula atau sukrosa dan glukosa merupakan beberapa senyawa karbohidrat yang penting dalam kehidupan manusia. 2.2 Klasifikasi Karbohidrat 2.2.1 Monosakarida Monosakarida merupakan karbohidrat yang paling sederhana karena tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi karbohidrat yang lain memiliki rumus empiris (CH2O)n. Monosakarida terbagi menjadi 2 kelompok yaitu : 1) Aldosa Mengandung gugus aldehid (CHO) bebas dan gugus hidroksi (CH) bebas, contoh : glukosa dan galaktosa. Adanya gugus aldehid pada glukosa dan galaktosa menyebabkan positif fehling dan akan membentuk endapan merah bata (Cu2O) Aldosa merupakan gula pereduksi yang berarti bahwa fungsi aldehid bebas dari bentuk rantai terbuka mampu untuk dioksidasi menjadi gugus asam karboksilat. Yang termasuk Aldosa antara lain : a. Glukosa Suatu aldoheksana yang sering disebut deksirona gula darah dan juga gula anggur. Disebut dekstrona karena dapat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan, memiliki rumus molekul C6H1206, glukosa mengandung empat atom karbon osimetrik yang ditandai, yaitu : b. Galaktosa Merupakan monosakarida yang paling rendah kemanisanya, dapat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan, proses oksidasi oleh asam kuat dan dalam keadaan panas galaktosa menghasilkan asam kuat yang kurang larut dalam air. Galaktosa merupakan hasil hidrolisis dari larutan (gula susu) yang melalui proses metabolisme diubah menjadi gula yang dapat menghasilkan energi. c. Ribosa dan deoksiribosa Ribosa dan dioksiribosa membentuk kerangka polimer dan asam-asam nucleus, awalan deoksi berarti “minus satu oksigen” deoksi ribosa tidak memiliki oksigen pada karbon kedua 2) Ketosa Merupakan monosakarida yang mengandung gugus keton dan sifatnya menyerupai keton alifatik (alkuna) contohnya yaitu fruktosa, sifat-sifatnya adalah : a) Mengandung gugus keton bebas atau karbonil bebas di samping gugus hidroksida (OH). b) Dapat terhidrasi jika dipanaskan bersama asam mineral kuat. c) Jika bereaksi dengan phernhyo Indino akan membentuk senyawa berwarna kuning. d) Dapat mereduksi Fehling membentuk larutan merah bata dan juga mereduksi benedict. e) Fruktosa sering disebut selulosa karena memutar bidang polarisasi ke kiri. Fruktosa merupakan gula termanis. 2.2.2 Disakarida Bila dihidrolisis akan menghasilkan 2 molekul monosakarida yang sama atau berbeda. Disakarida terbentuk dari 2 molekul monosakarida dimana tergabung melalui ikatan glioksida yang berbentuk antara karbon aromatik dan salah satu monosakarida dengan gugus hidroksil dari monosakarida lainnya, terhadap aktivitasnya terhadap oksidator, maka disakarida dibedakan atas disakerida produksi (maltosa, laktosa) dan disakarida non produksi (sukrosa). Hidrogen disakarida oleh pengaruh asam-asam mineral energi panas atau oleh enzim disakarida pada kondisi tertentu akan dihasilkan monosakarida penyusunnya. 1) Maltosa Pembentukan maltosa: Glukosa + glukosa  maltosa + H2O Maltosa terdapat pada gandum yang sedang berkecambah, Maltosa adalah disakarida yang diperoleh sebagai hasil hidrolisa pati, hidrolisis selanjutnya menghasilkan glukosa, karena itu maltosa terdiri dari 2 glukosa, memberi tes positif terhadap pereaksi tollens dan fehling. 2) Sukrosa Pembentukan sukrosa: Glukosa + Fruktosa  Sukrosa + H2O Sukrosa larut dalam air, tetapi tidak larut dalam alcohol, hidrolisis sukrosa dapat ditentukan dengan enzim sukrosa atau investase oleh pengaruh asam mineral encer panas menghasilkan glukosa dan fruktosa, sukrosa banyak terdapat pada tanaman yang berfotosintesis, fungsinya sebagai sumber energi, tidak memiliki gugus karbonil bebas sehingga tidak dapat mereduksi dan membentuk osanan. 3) Laktosa Pembentukan laktosa Glukosa + Galaktosa  Laktosa + H2O Laktosa merupakan gula utama yang terdapat pada susu sapi dan asi oleh sebab itu sering disebut “gula susu” dapat mengkristal dengan molekul air, kristal besar dan kelarutan dalam air kurang baik, laktosa mempunyai sifat mereduksi pereaksi benedict atau fehling pada pemanasan laktosa atas 1 molekul glukosa dan 1 molekul glukosa. 2.2.3 Polisakarida Polisakarida merupakan senyawa karbohidrat yang tersusun dari banyak sakarida, polisakarida terpenting yaitu amilum, glikogen dan selulosa, sifat dari polisakarida: tidak dapat mereduksi, tidak menunjukkan mutarotasi, tidak membentuk mutanon, dan relatif stabil terhadap pengaruh basa. Polisakarida yang tidak mengandung nitrogen yaitu : 1) Amilum atau pati Merupakan karbohidrat cadangan yang terdapat pada tumbuhan, terdapat dua fraksi pada amilum yaitu fraksi amilase (fraksi tidak bercabang) dan fraksi amilopektin (fraksi bercabang). 2) Selulosa Merupakan senyawa organik yang melimpah di bumi, membentuk komponen dan dinding sel tumbuhan, molekul selulosa merupakan rantai-rantai mikroblit dan D-glukosa, suatu molekul tunggal selulosa merupakan molekul dari 1,4 – B – 0 glukosa menghasilkan 0 –glukosa. 3) Glikogen Merupakan polisakarida yang digunakan sebagai tempat penyimpanan glukosa dalam tubuh hewan terutama pada otot dan hati. Glikogen mengandung rantai glukosa yang terikat 1,4  dengan percabangan 1,6  dan mengandung amilopektin. 4) Amilosa dan Amilopektin Pada hidrolisis amilosa hanya menghasilkan glukosa, sedangkan hidrolisis parsialnya menghasilkan maltosa, dengan iodine membentuk warna biru tua. Amilopektin mengandung lebih dari 1000 glukosa pada tiap molekulnya, Hidrolisis amilopektin. 5) Kitin Merupakan polisakarida linier yang mengandung N–asetat–D–gluko–samiria terikat B. Hidrolisis kitin menghasilkan 2–amino–2 dioksi glukosa, sedangkan gugus asetalnya terlepas dalam proses hidrolisis kitin biasanya terdapat pada serangga. 2.3 Sifat-sifat Karbohidrat 2.3.1 Monosakarida 1) D-glukosa, terdapat dalam darah dan merupakan sumber energi utama pada kegiatan sel larutan D-glukosa dalam air memutarkan bidang polarisasi ke kanan sehingga disebut diktrosa. Larutan D-fruktosa memutarkan ke kiri jika dalam air sehingga disebut lesulosa. 2) Semua monosakarida merupakan zat padat yang mudah larut dalam air. Bila dipanaskan, zat itu akan hancur dan mudah terurai dan membentuk karbon dan uap air. 3) Semua monosakarida merupakan reduktor kuat. Daya reduksinya tidak sekuat aldehid tapi lebih kuat dari pada keton. 4) Larutan monosakarida yang baru dibuat mengalami perubahan sudut putaran sampai akhirnya dicapai keadaan seimbang dengan sudut putaran tertentu peristiwanya disebut mubtorasi. 2.3.2 Disakarida 1) Bila dihidrolisis molekulnya akan terurai menjadi 2 molekul monosakarida. 2) Dapat direduksi. 3) Dapat termulatorasi. 2.3.3 Polisakarida 1) Merupakan senyawa polimer kondensasi dan sejumlah besar monosakarida. 2) Jenis ikatannya dapat berbentuk alfa atau beta anomer. 3) Molekulnya sangat panjang dan besar. 4) Berupa zat padat berwarna putih. 2.4 Identifikasi Karbohidrat 2.4.1 Uji Molisch Karbohidrat + alfanaftol dalam alkohol + asam sulfat terbentuk larutan berwarna ungu. Cara penyelidikannya yaitu larutan zat yang tidak diketahui (2 ml) + 10% α-naftol segar dalam alkohol, melalui dinding tabung percobaan diakhiri asam sulfat pekat, ciri-ciri merah sampai ungu menunjukan adanya karbohidrat. 2.4.2 Uji Benedict Pereaksi benedict terdiri dari campuran larutan tembaga sulfat, natrium filtrat dan natrium karbonat. Cara penyelidikannya 2 ml karbohidrat ditambah 2 ml pereaksi benedict dan dipanaskan dalam pemanasan air. Perubahan warna dari biru menjadi ungu, kuning, kemerah-merahan sampai terbentuk endapan warna merah bata menunjukkan adanya karbohidrat yang diselidiki mempunyai sifat dapat mereduksi. Reaksi fruktosa dengan benedict : Reaksi sukrosa dengan benedict 2.4.3 Uji Barfoed Pereaksi barfoed tersusun atas campuran tembaga asetat dan asam glacial. Cara penyelidikannya seperti pada tes benedict dan fehling. 2.4.4 Hidrolisis Polisakarida Pemecahan (hidrolisis) molekul gula, pati dan selulosa ion kompleks menjadi molekul monosakarida mudah dilakukan dalam laboratorium dengan mendidihkan larutan karbohidrat dengan larutan encer asam. Maltosa, pati dan selulosa membentuk glukosa hanya pada hidrolisis sempurna : Sukrosa menghasilkan fruktosa dan glukosa sama banyak dalam hidrolisis : BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Yang Dibutuhkan 1) Gelas ukur 2) Gelas kimia 3) Pipet tetes 4) Kaca arloji 5) Batang pengaduk 6) Spatula 7) Neraca 8) Kaki tiga, kassa asbes & pembakar spirtus 9) Rak & tabung reaksi 10) Penjepit tabung 3.1.2 Bahan Yang Dibutuhkan 1) Pereaksi Molisch 2) Pereaksi Benedict 3) Pereaksi Barfoed 4) Pereaksi Seliwanoff 5) Sukrosa 0,1 M 6) Glukosa 0,1 M 7) Arabinosa 0,1 M 8) Maltosa 0,1 M 9) Galaktosa 0,1 M 10) Fruktosa 0,1 M 11) Laktosa 0,1 M 12) Larutan Pati 1% 13) H2SO4 pekat 14) HCl 10% 15) HCl 6 N 16) NaOH 6 N 17) Larutan Iodium 0,01 M 18) H2O 3.2 Cara Kerja 3.2.1 Uji Molisch 1) 1 mL larutan karbohidrat pada tabung reaksi, + 3 tetes pereaksi Molisch, kocok. 2) + 1 mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung. 3) Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya bidang batas antara kedua lapisan cairan. 4) Lakukan percobaan untuk sampel 0,1 M glukosa; sukrosa; maltosa; & arabinosa. 3.2.2 Uji Benedict 1) Tambahkan 1 mL larutan karbohidrat pada tabung reaksi yang telah diisi dengan 2 mL reagen Benedict, kocok. 2) Tempatkan tabung dalam penangas air mendidih selama 5 menit, biarkan dingin. Perhatikan perubahan warna dan ada tidaknya pembentukan endapan (endapan hijau, kuning atau merah menunjukan reaksi positif). 3) Lakukan percobaan untuk sampel 0,1 M glukosa; galaktosa; sukrosa; maltosa; fruktosa & larutan pati 1%. 3.2.3 Uji Barfoed 1) Tambahkan 1 mL larutan karbohidrat pada tabung reaksi yang telah diisi dengan 1 mL reagen Barfoed. Panaskan tabung di atas air mendidih selama 3 menit. Dinginkan selama 2 menit pada air mengalir. 2) Bila tidak terjadi reduksi selama 5 menit, lakukan pemanasan selama 15 menit hingga terlihat adanya reduksi. 3) Lakukan percobaan untuk sampel 0,1 M glukosa; fruktosa; sukrosa; maltosa; & laktosa. 3.2.4 Uji Seliwanoff 1) Tambahkan 1 mL larutan karbohidrat pada tabung reaksi yang telah diisi dengan 2 mL reagen Seliwanoff, kocok. 2) Tempatkan tabung dalam penangas air mendidih selama 1 menit, atau diteruskan hingga terjadi perubahan warna. Terjadinya perubahan warna merah dan endapan menunjukan reaksi positif untuk ketosa; bila dilarutkan dalam alcohol akan terbentuk warna merah (merah bata). 3) Lakukan percobaan untuk sampel 0,1 M glukosa; fruktosa & sukrosa. 3.2.5 Hidrolisa Sukrosa 1) Isi tabung reaksi dengan 5 mL 0,1 M sukrosa, tambahkan 1 mL HCl 10%. 2) Tempatkan tabung dalam penangas air mendidih selama 15 menit, kemudian dinginkan perlahan dan netralkan. 3) Tes hidrolisat dengan pereaksi Benedict, Seliwanoff dan Barfoed. 3.2.6 Tes Pati Dengan Iodium 1) Isi tabung reaksi masing-masing dengan 3 mL larutan pati 1%. 2) Ke dalam tabung 1 tambahkan 2 tetes air. 3) Ke dalam tabung 2 tambahkan 2 tetes HCl 6N. 4) Ke dalam tabung 3 tambahkan 2 tetes NaOH 6N. 5) Ke dalam masing-masing tabung tambahkan 1 tetes 0,01 M larutan iodium. 6) Amati perubahan warna, panaskan tabung yang berwarna biru, dinginkan perlahan. Lalu amati perubahan warna yang terjadi. 3.3 Reaksi Yang Terjadi 3.3.1 Uji Molisch 3.3.2 Uji Benedict 3.3.3 Uji Barfoed 3.3.4 Uji Seliwanoff 3.3.5 Hidrolisa Sukrosa +HCl Sukrosa → Glukosa + Fruktosa 3.3.6 Uji Pati Dengan Iodium 3 I2 + 6 NaOH → 5 NaI + NaIO3 + 3 H2O 5NaI + NaIO3 + 6HCl → 3I2 + 6NaCl + 3H2O BAB IV HASIL PERCOBAAN 4.1 Data Percobaan 4.1.1 Uji Molisch Sampel Reagen Keterangan + Molisch + H2SO4 ( + ) ( - ) 0,1 M Glukosa Lar. berwarna Biru Biru keunguan dengan bidang batas ungu  0,1 M Sukrosa Lar. berwarna Biru Biru keunguan dengan bidang batas ungu  0,1 M Maltosa Lar. berwarna Biru Biru keunguan dengan bidang batas ungu  0,1 M Arabinosa Lar. berwarna Biru Biru keunguan dengan bidang batas ungu  4.1.2 Uji Benedict Sampel Reagen Keterangan + Benedict  penangas air ( + ) ( - ) 0,1 M Glukosa Endapan merah  0,1 M Sukrosa Endapan kuning  0,1 M Maltosa Endapan merah  0,1 M Galaktosa Endapan merah  0,1 M Fruktosa Endapan merah  Larutan Pati 1% Endapan merah  4.1.3 Uji Barfoed Sampel Reagen Keterangan + Barfoed  penangas air ( + ) ( - ) 0,1 M Laktosa Endapan putih  0,1 M Sukrosa Endapan putih  0,1 M Maltosa Endapan putih  0,1 M Fruktosa Endapan merah  4.1.4 Uji Seliwanoff Sampel Reagen Keterangan + Seliwanoff  penangas air ( + ) ( - ) 0,1 M Glukosa Lar. berwarna merah bata  0,1 M Sukrosa Lar. berwarna merah bata  0,1 M Fruktosa Lar. berwarna merah bata  4.1.5 Hidrolisa Sukrosa Sampel Reagen + HCl 10%  penangas air + Benedict + Seliwanoff + Barfoed 0,1 M Sukrosa Lar. tak berwarna Lar. biru Lar. tak berwarna Lar. biru 4.1.6 Tes Pati dengan Iodium Sampel Reagen + air + HCl 6N + NaOH 6N + Iod. 0,01 M Larutan Pati 1% Lar. putih keruh Lar. kuning keruh Lar. kuning Lar. tak berwarna biru 4.2 Pembahasan : Pada praktikum kali ini yaitu praktikum mengenai Analisis Kualitatif Biomolekul (Karbohidrat). Tujuannya untuk mengidentifikasi positif atau negatifnya dari suatu sampel yang diduga terdapat lemak atau lipid sisuai dengan sifat-sifat kimia dan fisikanya. Hasil yang tidak sesuai dengan literatur yang ada maka dikatakan uji tersebut negative, tetapi sebaliknya jika sesuai maka hal tersebut dikatakan uji tersebut berhasil atau sesuai dengan literatur. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan perubahan reaksi yang dihasilkan anatar sampel dengan reagensia. Karbohidrat ialah gula sederhana dari zat-zat yang dengan hidrolisis menghasilkan gula sederhana. Uji-uji yang dilakukan adalah : 4.2.1 Uji Molisch Uji ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan adanya karbohidrat dalam suatu larutan. Prinsip dari uji ini yaitu asam sulfat pekat akan menghidrolisis ikatan glikosidik membentuk monosakarida yang selanjutnya terhidrasi menjadi senyawa furfural dan turunannya. Produk furfural ini akan bergabung dengan -naftol tersulfonasi membentuk kompleks berwarna ungu. Sampel bahan yang digunakan yaitu 0,1 M glukosa, sukrosa, maltose dan arabinosa. Setelah ditambahkan 1 ml H2SO4 pekat terbentuk dua lapisan,. Ada tidaknya karbohidrat ditunjukkan dengan adanya cincin merah sampai ungu pada batas antara lapisan bawah dan lapisan atas. Dalam percobaan ini terlihat bidang batas atau cincin berwarna ungu. Ini membuktikan uji molisch yang dilakukan positif. Adapun fungsi dari penambahan asam sulfat yaitu untuk menghidrolisis ikatan glikosidik pada karbohidrat sehingga membentuk monosakarida. Warna cincin ungu disebabkan oleh adanya furfural dengan -naftol. Fungsi derivat sendiri dihasilkan oleh adanya monosakarida yang ditambahkan asam kuat pekat. Sebenarnya reaksi kondensasi antara furfural dengan -naftol, tidak spesifik untuk karbohidrat tetapi dapat digunakan sebagai reaksi pendahuluan dalam analisis kualitatif karbohidrat. Penambahan pereaksi molish pada karbohidrat merupakan reaksi eksoterm yaitu mengahasilkan kalor, melepaskan kalor ke lingkungan. 4.2.2 Uji Benedict Pada uji benedict, semua sampel berhasil positif dengan perubahan warna menjadi merah bata 0,1 M fruktosa, galaktosa, glukosa, maltosa, dan pati, sedangkan untuk karbohidrat jenis sukrosa perubahan warna menjadi kuning jernih. Sekalipun aldosa atau ketosa dalam bentuk sikliknya, namun bentuk ini berada dalam kesetimbangannya dengan sejumlah kecil aldehida atau keton rantai terbuka, sehingga gugus aldehida atau keton ini dapat mereduksi berbagai macam reduktor, oleh karena itu, karbohidrat yang menunjukkan hasil reaksi positif disebut gula pereduksi. Pada pati, sekalipun ada glukosa rantai terbuka pada ujung rantai polimer, namun konsentrasinya sangatlah kecil, sehingga warna hasil reaksi sedikit tampak oleh penglihatan. Uji benedict bertujuan untuk mengetahui gugus gula pereduksi dalam karbohidrat. Prinsip dari uji ini yaitu jika suspensi kupri hidroksida (Cu(OH)2 dalam larutan alkali dipanaskan, maka akan terbentuk endapan kupri oksida (Cu2O) berwarna kecoklatan. Karbohidrat dengan gugus aldehida dan keton bebas mempunyai sifat pereduksi dalam larutan alkali, dalam hal ini monosakarida berperan sebagai zat pereduksi. Pada uji ini sampel yang digunakan yaitu glukosa, fruktosa, galaktosa, maltosa, larutan pati dan sukrosa. Sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi benedict bersifat asam lemah. Setelah itu larutan dipanaskan dalam penangas air. Pemanasan ini bertujuan untuk mengubah kupri oksida yang berwarna hitam menjadi kupro oksida yang berwarna merah bata, dan dengan pemanasan reaksi akan berjalan lebih cepat terjadi karena energi aktivasi yang diperlukan hanya sedikit / kecil. Kemudian larutan didiamkan dan diamati perubahan warna yang terjadi. Pada sampel glukosa, fruktosa, galaktosa, maltosa dan larutan pati terbentuk endapan berwarna merah bata yang berarti menunjukkan hasil positif. Warna endapan yang menjadi merah bata menunjukkan bahwa larutan sampel tersebut merupakan glukosa pereduksi. Reaksi antara sampel dengan peraksi benedict merupakan reaksi redoks, dimana pereaksi benedict mengalami reduksi menjadi endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Karbohidrat mengalami oksidasi menjadi asam alkanoat. Sedangkan sukrosa berwarna kuning, hal ini menunjukan uji positif. Karena glukosa merupakan suatu monosakarida yang memiliki gugus pereduksi. 4.2.3 Uji Barfoed Percobaan ini bertujuan untuk menunjukkan adanya karbohidrat yaitu monosakarida. Prinsipnya adalah reagen Barfoed bersifat asam sangat lemah dan hanya bisa direduksi oleh monosakarida. Pemanasan yang lama akan menghidrolisis disakarida sehingga menyebabkan terjadinya false positif. Pengendapan kupro oksida (Cu2O) pada uji barfoed membentuk warna lebih merah bata daripada uji benedict. Pada percobaan ini menggunakan sampel laktosa, maltosa, fruktosa, dan sukrosa. Disakarida dengan konsentrasi rendah tidak memberikan hasil positif. Hasilnya semua sampel terbentuk endapan putih, sedangkan pada fruktosa terbentuk endapan merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa fruktosa merupakan monosakarida karena terbentuk endapan merah bata. Seharusnya yang hasilnya positif adalah larutan glukosa dan fruktosa, karena glukosa dan fruktosa merupakan monosakarida, tapi pada percobaan kali ini larutan glukosa tidak ada endapannya. Hal ini mungkin pada waktu pemanasan kurang lama. 4.2.4 Uji Seliwanoff Pada percobaan ini menggunakan sampel fruktosa, sukrosa, dan glukosa. Pembentukan 4-hidroksimetil furfural ini terjadi pada reaksi antara fruktosa, sukrosa, dan glukosa yang mendasari uji seliwanoff ini. Fruktosa merupakan ketosa, dan sukrosa terbentuk pada glukosa dan fruktosa, sehingga reaksi dengan pereaksi selliwanof menghasilkan senyawa berwarna merah. Yang mana setelah ditambahkan alkohol larutan menjadi berwarna merah bata. Reaksi Seliwanoff tidak terjadi pada pati dan laktosa, karena pati tersusun dari unit-unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4-a-glikosida, sedangkan laktosa tersusun dari galaktosa dan glukosa yang keduanya merupakan Aldosa. 4.2.5 Hidrolisa Sukrosa Pada uji Hidrolisis Pati ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa). Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhirolisis, lalu menghasilkan glukosa dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilkan monosakarida. +HCl Sukrosa → Glukosa + Fruktosa Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas. 4.2.6 Uji Pati Dengan iodium Uji Iodin dalam percobaan dilakukan dengan 3 kondisi yaitu asam, netral dan basa. Namun dalam percobaan kali ini sepertinya ada kesalahan dalam prosedur untuk uji pati dengan iodium ini, karena jika dibandingkan dengan literatur-literatur yang ada seharusnya pati yang ada dalam tabung langsung ditambahkan dengan larutan iod sebelum diperalakukan dengan penambahan air, asam atau basa. Sehingga hasil yang diperoleh pun tidak sesuai yang diharapkan. Akan tetapi jika prosedur dalam uji iod uni pati direaksikan terlebih dahulu dengan iodium, kemudian ditambahkan air, asam atau basa, maka diperoleh dengan basa (+ 2 tetes NaOH) tidak mengalami perubahan warna atau dengan kata lain tidak terbentuk ikatan koordinasi antara ion iodida pada heliks. Dengan kondisi netral (+2 tetes air) timbul warna biru, sedangkan dengan kondisi asam (+ 2 tetes HCl) menimbulkan warna biru yang cerah. Jadi pada kondisi asam-lah memberikan hasil uji terbaik. Hal ini disebabkan karena dengan basa I2 akan mengalami reaksi sebagai berikut: 3 I2 + 6 NaOH → 5 NaI + NaIO3 + 3 H2O Sehingga pada larutan tidak terdapat I2 yang menyebabkan tidak terjadinya ikatan koordinasi sehingga warna biru tidak terjadi. Sedangkan pada kondisi asam ternyata NaI dan NaIO3 akan diubah menjadi I2 kembali oleh asam klorida. Dengan reaksi: 5NaI + NaIO3 + 6HCl → 3I2 + 6NaCl + 3H2O BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum, serta apa yang penyusun tulis atau sampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :  Uji molisch digunakan untuk menentukan karbohidrat secara umum, uji benedict digunakan untuk menentukan gula pereduksi dalam karbohidrat.  Uji barfoed digunakan untuk mengidentifikasi antara monoskarida, disakarida, dan polisakarida.  Uji seliwanoff digunakan untuk menentukan karbohidrat jenis ketosa.  Uji hidrolisa sukrosa digunakan untuk menguraikan atau memisahkan fruktosa dan glukosa.  Pada uji iod, hanya pati lah yang dapat membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan iodium. BAB I TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN 1.1 Judul Percobaan Protein 1.2 Tujuan Percobaan Untuk mengidentifikasi suatu sampel terhadap sifat-sifat dari protein. 1.3 Prinsip Percobaan Berdasarkan sifat protein yang bereaksi dengan beberapa reagensia tertentu. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Protein Kata protein berasal dari kata yunani ‘protos atau proteos’ yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia.Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukkan dan pertumbuhan tubuh. Struktur Protein : Protein adalah makromolekul yang unik sekaligus memiliki struktur yang kompleks. Meskipun protein hanya tersusun atas asam amino yang ada 20 jenis saja, namun untuk dapat berfungsi, ia akan melipat-lipat dan membentuk suatu struktur tertentu yang sangat presisi sekaligus sulit diprediksi hingga saat ini. Karena strukturnya yang unik dan presisi itulah maka protein memiliki fungsi yang spesifik yang berbeda satu dengan lainnya. Gambar. Tingkatan Struktur Protein 2.2 Klasifikasi Protein 2.2.1 Berdasarkan kelarutannya : 1) Protein fibrosa : tidak larut dalam pelarut biasa namun larut dalam asam dan basa. 2) Protein globular : larut dalam air, larutan asam, basa, bahkan garam. 2.2.2 Berdasarkan komplekan strukturnya : 1) Protein sederhana : hidrolisisnya menghasilkan asam amino. contoh : albumin, globular. 2) Protein konjugasi : memilik gugus bukan protein yaitu gugus prostetik. contoh : neuro protein, kromoprotein. 2.3 Sifat-sifat Protein 2.3.1 Kelarutan Kelarutan protein dalam berbagai pelarut berbeda. 2.3.2 Sifat koloid Di dalam pelarut air, protein akan membentuk koloid. Di samping itu, protein memiliki gugus hidrofilik seperti -NH2, -COOH, -OH, sehingga koloid hidrofil. Karena molekulnya cukup besar, maka protein tidak dapat berdifusi melalui membran. 2.3.3 Sifat asam basa Sifat asam basa protein ditentukan oleh gugus asam basa pada gugus R–nya. Adanya gugus asam basa menyebabkan protein bersifat sebagai suatu amfotir. 2.3.4 Denaturasi dan koagulasi Pada proses denaturasi protein mengalami perubahan sifat fisik dan kereaktifan biologisnya disebabkan pemanasan. 2.3.5 Penguraian protein dan mikroba Mikroba mengeluarkan enzim-enzim proteolik yang menghidrolisiskan protein, menjadikan asam-asam amino. Perubahan selanjutnya bergantung pada jenis mikroba pembentuk dan dalam hal ini dapat terjadi deaminasi, oksidasi, atau reduksi. 2.4 Pembentukan Protein Kita mulai dari asam amino, nama resminya adalah asam 2-amino karboksilat atau asam α-amino karboksilat. Dimana R adalah gugus samping mulai dari yang paling sederhana –H (glycine | gly) hingga yang memiliki gugus samping siklik seperti tryptophan (trp). Gambar di bawah ini adalah struktur dari 20 jenis asam amino penyusun protein. Gugus R ada yang bersifat netral, bermuatan positif, negatif, ada yang hidrofilik dan hidrofobik. Gambar. Molekul Asam Amino 2.4.1 Struktur 20 Asam Amino Penyusun Protein 2.4.2 Asam Amino Asam amino (selanjutnya disebut AA saja) dapat membentuk rantai karena gugus amino (–NH2) suatu AA dapat bereaksi dengan gugus karboksilat (–COOH) pada AA lainnya. Molekul rantai yang terbentuk dinamakan peptida, jika rantainya relatif pendek (<10 AA) biasa disebut oligopeptida, jika rantainya panjang disebut polipeptida atau protein (sekitar 50 – 2000 residu AA). Ikatan yang terbentuk antar AA dinamakan ikatan peptida. Gambar. Reaksi Pembentukan Ikatan Peptida Karena reaksi pembentukan peptida membebaskan 1 molekul air, maka jumlah AA penyusun polipeptida disebut residu. Berdasarkan konvensi, penyebutan urutan AA dimulai dari AA yang memiliki gugus –NH2 (disebut N terminal) hingga yang memiliki gugus –COOH bebas (C terminal). Gambar. Struktur Molekul Polipeptida Rantai peptida biasa disebut “backbone” alias tulang punggung sedangkan gugus R biasa disebut gugus samping. 2.4.3 Struktur-struktur Pada Protein 1) Struktur Primer Secara sederhana, struktur primer protein adalah urutan asam amino penyusun protein yang disebutkan dari kiri (N-terminal) ke kanan (C-terminal). AA bisa ditulis dalam singkatan 3 huruf atau 1 huruf. Jadi untuk gambar di atas bisa ditulis seperti ini: Gly – Pro – Thr – Gly – Thr – Gly – Glu – Ser – Lys – Cys – Pro – Leu – Met – Val – Lys – Val – Leu – Asp – Ala – Val – Arg – Gly – Ser – Pro – Ala, atau G P T G T G E S K C P L M V K V L N A V R G S P A. Cara penulisan yang terakhir (kode 1 huruf) lebih banyak digunakan karena lebih praktis. Gambar. Struktur Primer Protein Struktur primer terbentuk karena ikatan peptida antar AA selama proses biosintesis protein atau translasi. Urutan asam amino dapat ditentukan dengan metode Degradasi Edman atau Tandem Mass Spectrophotometry. Atau bisa juga dari hasil translasi in silico gen pengkode protein tersebut. 2) Struktur Sekunder Pada bagian tertentu dari protein, terdapat susunan AA yang membentuk suatu struktur yang reguler dengan sudut-sudut geometri tertentu. Ada dua struktur sekunder utama yaitu alfa-helix dan beta-sheet. Struktur ini terjadi akibat adanya ikatan hidrogen antar AA. Gambar. Struktur Sekunder Protein Pada gambar sebelah kiri, terlihat bahwa struktur alfa-helix terbentuk oleh ‘backbone‘ ikatan peptida yang membentuk spiral dimana jika dilihat tegak lurus dari atas, arah putarannya adalah searah jarum jam menjauhi pengamat (dinamakan alfa). Satu putaran terdiri atas 3.6 residu asam amino dan struktur ini terbentuk karena adanya ikatan hidrogen antara atom O pada gugus CO dengan atom H pada gugus NH (ditandai dengan garis warna oranye). Seperti halnya alfa-helix, struktur beta-sheet juga terbentuk karena adanya ikatan hidrogen, namun seperti terlihat pada gambar sebelah kanan, ikatan hidrogen terjadi antara dua bagian rantai yang pararel sehingga membentuk lembaran yang berlipat-lipat. Tidak semua bagian protein membentuk struktur alfa-helix dan beta-sheet, pada bagian tertentu mereke tidak membentuk struktur yang reguler. 3) Struktur Tersier Struktur tersier adalah menjelaskan bagaimana seluruh rantai polipeptida melipat sendiri sehingga membentuk struktur 3 dimensi. Gambar. Struktur Tersier Protein Dihydrofolatreductase Pelipatan ini dipengaruhi oleh interaksi antar gugus samping (R) satu sama lain. Ada beberapa interaksi yang terlibat yaitu: Interiaksi ionik Terjadi antara gugus samping yang bermuatan positif (memiliki gugus –NH2 tambahan) dan gugus negatif (–COOH tambahan). Gambar. Ikatan Ionik Ikatan hidrogen Jika pada struktur sekunder ikatan hidrogen terjadi pada ‘backbone‘, maka ikatan hidrogen yang terjadi antar gugus samping akan membentuk struktur tersier. Karena pada gugus samping bisa banyak terdapat gugus seperti –OH, –COOH, –CONH2 atau –NH2 yang bisa membentuk ikatan hidrogen. Gambar. Ikatan hydrogen Gaya Dispersi Van Der Waals Beberapa asam amino memiliki gugus samping (R) dengan rantai karbon yang cukup panjang. Nilai dipol yang berfluktuatif dari satu gugus samping dapat membentuk ikatan dengan dipol berlawanan pada gugus samping lain. Gambar. Ikatan Van Der Waals Jembatan Sulfida Cysteine memiliki gugus samping –SH dimana dapat membentuk ikatan sulfida dengan –SH pada cystein lainnya, ikatan ini berupa ikatan kovalen sehingga lebih kuat dibanding ikatan-ikatan lain yang sudah disebutkan di atas. Gambar. Jembatan Disulfida 4) Struktur Quartener Protein atau polipeptida yang sudah memiliki struktur tersier dapat saling berinteraksi dan bergabung menjadi suatu multimer. Protein pembentuk multimer dinamakan subunit. Jika suatu multimer dinamakan dimer jika terdiri atas 2 subunit, trimer jika 3 subunit dan tetramer untuk 4 subunit. Multimer yang terbentuk dari subunit-subunit identik disebut dengan awalan homo–, sedangkan jika subunitnya berbeda-beda dinamakan hetero–. Misalnya hemoglobin yang terdiri atas 2 subunit alfa dan 2 subunit beta dinamakan heterotetramer. Gambar. Struktur Quartener Protein Hemoglobin Perlu diketahui bahwa beberapa protein dapat berfungsi sebagai monomer sehingga tidak memiliki struktur quartener. 2.5 Identifikasi Protein 2.5.1 Uji Biuret Uji ini digunakan untuk menguji adanya ikatan peptida. Larutan Biuret terdiri atas NaCl dan CuSO4. Larutan protein jika ditambah pereaksi Biuret maka akan terbentuk warna merah muda sampai violet. Reaksi yang terjadi : 2.5.2 Uji Ninhidrin Merupakan uji asam amino dengan radikal fenil. Larutan HNO3 pekat jika ditambahkan dengan protein terjadi endapan putih dan dapat berubah kuning bila di panaskan. Reaksi yang terjadi adalah nitrasi pada inti Benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tiroksin, fenilalanin, dan triptofan. 2.5.3 Uji Hopkin-Cole Larutan protein yang mengandung triptofan dapat bereaksi membentuk senyawa berwarna. Pereaksi hopkins-cole dibuat dari asam oksalat dengan 2.5.4 Uji Molisch Uji ini dipakai untuk mengetahui ada tidaknya radikal prostetik karbohidrat pada protein majemuk seperti glikoprotein. Larutan ini bila ditambah  naphtol dalam alkohol dan asam sulfat pekat akan terbentuk warna ungu. Larutan KH yang sudah dibubuhi sedikit alfa naftol, ditambah H2SO4 terbentuk warna diantara 2 lapisan Protein yang mengandung gugus KH hewani memberi tes molisch positif. 2.5.5 Uji presipitasi (pengendapan) Protein larutan protein encer dapat diendapan dengan penambahan untuk mengendapkan larutan protein diantaranya adalah larutan garam-garam logam berat dan alkohol reagensia, zat putih telur (protein) jika dalam larutan berupa koloid. 2.5.6 Uji Sulfida Jika protein yang mengandung gugus amino unsur S ditambahkan NaOH dan dipanaskan, maka H2SO4 dapat diuraikan dan dalam larutan alkalis membentuk Na2S. Jika ditambah Pb Acetat, maka akan terbentuk PbS yang mengendap sebagai koloid. Jika hasil positif maka larutan mula-mula berwarna kuning, kemudian coklat dan akhirnya hitam serta mengendap. 2.6 Klasifikasi Protein Berdasarkan Fungsi Biologis 2.6.1 Enzim Enzim merupakan golongan protein besar dan paling penting. Pada jasad hidup yang berbeda terdapat berbagai macam enzim yang berbeda pula. Molekul enzim biasanya berbentuk bulat (globular), sebagian terdiri atas satu rantai polipeptida dan sebagian lagi terdiri lebih dari satu polipeptida. Contoh enzim : ribonuklease, suatu enzim yang mengkatalisa hidrolisis RNA; sitokrom, berperan dalam proses pemindahan elektron; tripsin, katalisator pemutus ikatan peptida tertentu dalam polipeptida. 2.6.2 Protein pembangun Protein pembangun berfungsi sebagai unsur pembentuk struktur. Beberapa contoh misalnya: protein pembungkus virus, merupakan selubung pada kromosoma; glikoprotein, merupakan komponon membran sel; α-keratin, terdapat dalm kulit, bulu ayam dan kuku; sklerotin, terdapat dalam rangka luar insekta; fibroin, terdapat dalam kokon ulat sutera; kolagen , merupakan serabut dalam jaringan penyambung; elastin, terdapat pada jaringan penyambung yang elastis (ikat sendi) mukoprotein, terdapat dalam sekresi mukosa (lendir). 2.6.3 Protein kontraktil Protein kontrakstil merupakan golongan protein yang berperan dalam proses gerak. Contohnya miosin, merupakan unsur filamen tak bergerak dalam miofibril; aktin, merupakan unsur filamen yang bergerak dalam miofibril; dinein, terdapat dalam rambut getar dan flagel. 2.6.4 Protein pengangkut Protein pengangkut mempunyai kemampuan mengikat molekul mengikat molekul tertentu dan melakukan pengangkutan berbagai macam zat melalui aliran darah. Contohnya, hemoglobin, terdiri atas gugus senyawa heme yang mengandung besi terikat pada protein globin, berfungsi sebagai alat pengangkut oksigen dalam darah vertebrata; hemosianin, berfungsi sebagai alat pengangkut oksigen dalam darah beberapa macam invertebrata; mioglobin, sebagai alat pengangkut oksigen dalam jaringan otot; serum albumin, sebagai alat pengangkut asam lemak dalam darah. β-lipoprotein, sebagai alat pengangkut lipid dalam darah; seruloplasmin, sebagai alat pengangkut ion tembaga dalam darah. 2.6.5 Protein Hormon Seperti enzim, hormon juga termasuk protein yang aktif, sebagai contoh misalnya: insulin, berfungsi mengatur metabolisme glukosa, hormon adrenokortikotrop, berperan pengatur sintesis kortikosteroid; hormon pertumbuhan, berperan menstimulasi pertumbuhan tulang. 2.6.6 Protein bersifat racun Beberapa protein bersifat racun terhadap hewan kelas tinggi, misalnya: racun dari closridium botulinun, menyebabkan keracunan bahan makanan; racun ular, suatu protein enzim yang menyebabkan terhidrolisisnya fosfogliserida yang terdapat dalam membran sel risin, protein racun dari beras. 2.6.7 Protein pelindung Umumnya terdapat dalam darah vertebrata. Contohnya: antibodi merupakan protein yang hanya dibentuk jika ada antigen (protein asing); fibrinogen, merupakan sumber pembentuk fibrin dalam proses pembekuan darah; trombin, merupakan komponen dalam mekanisme pembekuan darah. 2.6.8 Protein cadangan Protein cadangan disimpan untuk berbagai proses metabolisme dalam tubuh. Misalnyaovalbumin, merupakan protein susu; feritin. Merupakan tempat cadangan besi dalam limpa; zein, merupakan protein dalam biji jagung. BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Yang Dibutuhkan 1) Gelas ukur 2) Gelas kimia 3) Pipet tetes 4) Kaca arloji 5) Batang pengaduk 6) Spatula 7) Neraca 8) Kaki tiga, kassa asbes & pembakar spirtus 9) Rak & tabung reaksi 10) Penjepit tabung 3.1.2 Bahan Yang Dibutuhkan 1) Buffer Asetat pH 6,0 2) Buffer Asetat pH 5,3 3) Buffer Asetat pH 5,0 4) Buffer Asetat pH 4,1 5) Buffer Asetat pH 3,8 6) Pereaksi Ninhidrin 7) Larutan Albumin 2% 8) Larutan Casein 0,5% 9) NaOH 10% 10) CuSO4 0,1% 11) Urea 12) H2O 3.2 Cara Kerja 3.2.1 Uji Ninhidrin 1) 1 mL larutan albumin 2% pada tabung reaksi, + 1 mL 0,1 N larutan buffer asam asetat pH 5 dan kemudian tambahkan 1 mL larutan ninhidrin dalam aseton. 2) Panaskan campuran tersebut di atas dalam penangas air mendidih selama beberapa menit, perhatikan warna yang terjadi. 3.2.2 Uji Biuret 1) Ke dalam tabung reaksi masukan 1 mL larutan albumin 2% dan 1 mL 10% NaOH aduk dengan kuat. Tambahkan lagi beberapa tetes CuSO4 samapai terbentuk warna ungu. 2) Ke dalam tabung reaksi masukan urea sedikit dan panaskan hingga melebur. Dinginkan dan perhatikan baunya. Larutkan urea yang telah dingin tersebut dengan air, kemudian lakukan reaksi biuret seperti cara pertama. 3.2.3 Uji Titik Isoelektrik Protein 1) Ke dalam tabung reaksi masing-masing tambahkan 5 mL larutan 0,5% kasein. Selanjutnya pada kelima tabung tersebut tambahkan masing-masing buffer asetat pH 6.0, 5.3, 5.0, 4.1, dan 3.8 sebanyak 10 tetes. 2) Kocok campuran baik-baik serta catat derajat kekeruhan dalam penangas air mendidih selama 30 menit. Pembentukan endapan paling cepat terjadi dekat titik isoelektrik larutan protein. 3.3 Reaksi Yang Terjadi 3.3.1 Uji Ninhidrin 3.3.2 Uji Biuret 3.3.3 Titik Isoelektrik Protein kasein + Buffer asetat pH 3,8 → ↓ (mengendap) BAB IV HASIL PERCOBAAN 4.1 Data Percobaan 4.1.1 Uji Ninhidrin Sampel Reagen  penangas air + Buffer asetat pH 5 + Ninhidrin Larutan albumin 2% Lar. putih keruh Larutan bening Larutan ungu muda 4.1.2 Uji Biuret Sampel Reagen + NaOH 10% + CuSO4 0,1% Larutan albumin 2% Larutan kuning jernih Larutan ungu jernih Urea  ↑ (bau urea) Lar. jernih (tdk berwarna) Ungu muda jernih (dengan CuSO4 0,1% berlebih ) 4.1.3 Uji Titik Isoelektrik Protein Sampel + Reagen buffer asetat Pada menit pH 6,0 pH 5,3 pH 5,0 pH 4,1 pH 3,8 Kasein 0,5% > >> >>> >>>> >>>>> 0 > >> >>> >>>> >>>>> 10 > >> >>> >>>> >>>>> 30 Keterangan : ” > ­ >>>> “ merupakan indikator bahwa semakin rendah pH maka semakin banyak timbul endapan putih, serta yang paling cepat terjadi pengendapan (setelah dipanaskan dalam penangas air). 4.2 Pembahasan : Pada praktikum kali ini yaitu praktikum mengenai Analisis Kualitatif Biomolekul (Protein). Tujuannya untuk mengidentifikasi positif atau negatifnya dari suatu sampel yang diduga terdapat protein sesuai dengan sifat-sifat kimia dan fisikanya. Hasil yang tidak sesuai dengan literatur yang ada maka dikatakan uji tersebut negative, tetapi sebaliknya jika sesuai maka hal tersebut dikatakan uji tersebut berhasil atau sesuai dengan literatur. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan perubahan reaksi yang dihasilkan anatara sampel dengan reagensia. 2.2.1 Uji Ninhidrin Uji ninhidrin bertujuan untuk mengetahui adanya gugus karboksil dan gugus amino bebas. Gugus karboksil dan gugus amino bebas akan berikatan dengan ninhidrin dan menimbulkan persenyawaan berwarna ungu. Sampel yang berupa larutan albumin ditambahkan buffer asetat dan reagen ninhidrin kemudian dipanaskan beberapa menit. Tujuan dari pemanasan untuk mempercepat reaksi antara sampel dengan reagen ninhidrin. Karena penambahan suhu akan menyebabkan peningkatan energi kinetik molekul sehingga gerakan molekul lebih cepat dan tumbukan makin banyak terjadi. Sehingga laju reaksi pun bertambah. Hasil yang diperoleh adalah uji positif pada albumin ditandai dengan perubahan warna menjadi ungu. 2.2.2 Uji Biuret Dalam analisis protein dan asam amino, uji biuret diperlukan untuk mengetahui adanya ikatan peptida pada protein. Dalam larutan basa, biuret akan menunjukkan warna violet (ungu) dengan penambahan CuSO4. Pada percobaan kali ini kita akan menggunakan sampel larutan albumin dan urea. Pada tabung pertama berisi 1 mL larutan sampel albumin yang mula-mula ditambahkan dengan NaOH menghasilkan larutan berwarna kuning keruh dan kemudian ditambahkan reagen CuSO4 maka menghasilkan warna ungu. Tujuan dari penambahan NaOH ini adalah untuk mengkondisikan agar suasana menjadi basa. Perubahan warna menjadi ungu ini, menandakan bahwa dalam larutan tersebut telah terbentuk senyawa kompleks. Senyawa ini terbentuk antara Cu2+ dengan gugus C=O dan N-H dari rantai peptida. Warna ungu pada larutan protein ini menunjukkan bahwa dalam protein mengandung ikatan peptida. Akan tetapi, setelah larutan protein tersebut jika dipanaskan maka warna yang semula ungu berubah menjadi warna coklat muda. Perubahan warna ini disebabkan oleh terjadinya proses denaturasi (perubahan struktur protein) pada saat protein dipanaskan. Pada tabung kedua berisi urea, dan di tambahkan NaOH dan CuSO4 menghasilkan larutan berwarna ungu. Ikatan peptida terjadi bila beberapa asam amino berikatan antar satu sama lain. 2.2.3 Titik Isoelektrik Protein Pada percobaan titik isoelektrik protein ini menggunakan sampel kasein. Sampel yang telah ditambahkan larutan buffer asetat dengan pH tertentu akan mengendap, semakin kecil nilai pH nya maka semakin tinggi terbentuknya endapan tersebut. Protein mempunyai titik isoelektrik yang berbeda. Titik isoelektrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kimia erat hubungannya dengan pH isoelektrik. Pada pH di atas titik isoelektrik, protein bermuatan negative. Sedangkan di bawah titik isolelektrik protein bermuatan positif. Titik Isoelektrik adalah derajat keasaman atau pH ketika suatu makromolekul bermuatan nol akibat bertambahnya proton atau kehilangan muatan oleh reaksi asam-basa. Pada koloid, jika pH sama dengan titik isoelektrik, maka sebagian atau semua muatan pada partikelnya akan hilang selama proses ionisasi terjadi. Jika pH berada pada kondisi di bawah titik isoelektrik, maka muatan partikel koloid akan bermuatan positif. Sebaliknya jika pH berada di atas titik isoelektrik maka muatan koloid akan berubah menjadi netral atau bahkan menjadi negatif. BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum, serta apa yang penyusun tulis atau sampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :  Uji ninhidrin untuk mengetahui adanya gugus karboksil dan gugus amino bebas, gugus karboksil dan gugus amino bebas akan berikatan dengan ninhidrin dan menimbulkan persenyawaan berwarna ungu.  Uji biuret digunakan untuk mengetahui adanya ikatan peptida pada protein, sehingga dalam larutan basa, biuret akan menunjukkan warna violet (ungu) dengan penambahan CuSO4.  Uji titik isoelektrik adalah derajat keasaman atau pH ketika suatu makromolekul bermuatan nol akibat bertambahnya proton atau kehilangan muatan oleh reaksi asam-basa. BAB I TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN 1.1 Judul Percobaan Lipid 1.2 Tujuan Percobaan Untuk mengidentifikasi suatu sampel terhadap sifat-sifat dari lipid. 1.3 Prinsip Percobaan Berdasarkan sifat lipid yang bereaksi dengan beberapa reagensia tertentu. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Lipid Lemak adalah ester antara gliserol dan asam lemak dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol semuanya diesterkan. Jadi jelas bahwa lemak adalah trigliserida. Struktur kimia dari lemak yang berasal dari hewan atau manusia, tanaman maupun lemak sintetik, mempunyai bentuk umum sebagai berikut: R1, R2, R3 adalah rantai hidrokarbon dengan jumlah atom karbon mulai dari 3 sampai 23, namun yang paling umum adalah 15 atau 17. 2.2 Komponen Penyusun Lipid Komponen penyusun lemak adalah : 2.2.1 Gliserol Pada suhu kamar, gliserol adalah zat cair yang tidak berwarna, netral terhadap lakmus, kental dan rasanya manis. Dalam keadaan murni bersifat higroskopis. Dehidrasi gliserol dapat terjadi karena penambahan KHSO4 pada suhu tinggi. Hasil dehidrasi adalah aldehid alifatik yang mempunyai aroma khas. Reaksi ini sering dipakai untuk identifikasi gliserol : (gliserol) 2.2.2 Asam-asam Lemak 1) Keberadaan Asam Lemak Asam lemak jarang terdapat bebas dialam tetapi terdapat sebagai ester dalam gabungan dengan fungsi alkohol. Asam lemak pada umumnya adalah asam monokarboksilat berantai lurus. Asam lemak pada umumnya mempunyai jumlah atom karbon genap (ini berarti banyak karena asam-asam lemak disintesa terutama dua karbon setiap kali). Asam lemak dapat dijenuhkan atau dapat mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap. Walaupun asam lemak berantai linier terdapat dalam jumlah yang lebih besar dialam namun masih banyak jenis lain yang kita ketahui. Misalnya lemak wol dan sumber-sumber bacterial menghasilkan asam lemak yang berantai cabang. Juga ada asam lemak siklik. Misalnya asam lemak siklik tak jenuh, asam kaulmoograt adalah pereaksi penting untuk pengobatan penyakit kusta. Bentuk sesungguhnya dari suatu asam lemak berkembang dari bentuk hidrokarbon induk. Konfigurasi ikatan rangkap dari asam-asam lemak yang terdapat dialam pada umumnya adalah cis : Kenyataan bahwa alam lebih menyukai asam-asam lemak tak jenuh cis mungkin bertalian dengan pentingnya senyawa-senyawa ini dalam struktur membran biologi. 2) Klasifikasi Asam Lemak a) Klasifikasi asam lemak berdasarkan ikatannya : 1) Asam lemak jenuh Asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap dalam strukturnya. Beberapa contoh penting antara lain : C3H7 — COOH : asam butirat C5H11 — COOH : asam kaproat C7H15 — COOH : asam kaprilat C11H23 — COOH : asam laurat C13H27 — COOH : asam miristat C13H27 — COOH : asam stearat C19H39 — COOH : asam arachidat 2) Asam lemak tak jenuh Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mempunyai sebuah atau lebih ikatan rangkap 2 dalam struktur molekulnya. Beberapa contoh asam lemak tak jenuh : (asam lemak palmitoleat) (asam oleat) (asam linoleat) b) Klasifikasi asam lemak berdasarkan dapat atau tidaknya disintesis oleh tubuh : 1) Asam lemak esensial Yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh,tetapi tubuh sendiri tidak dapat mensintesisnya. Asam lemak ini diperoleh dari luar, yaitu dari lemak makanan. Asam ini mempunyai 2 buah atau lebih ikatan rangkap dua didalam struktur molekulnya. Contoh : asam linoleat, asam arachidat. 2) Asam lemak nonesensial Yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh dan tubuh sendiri dapat mensintesisnya. 2.3 Klasifikasi Lipid 2.3.1 Berdasarkan bentuknya pada suhu tertentu, lemak dibedakan : a) Lemak padat, yaitu lemak yang ada pada temperatur udara biasanya berwujud pada. Contoh : gajih. b) Lemak cair, yaitu lemak yang pada suhu udara biasa berbentuk cair. Contoh : etanol, minyak kelapa. 2.3.2 Berdasarkan asal darimana lemak didapat, lemak dibedakan : a) Lemak hewani, yaitu lemak yang didapat dari hewan. b) Lemak nabati, yaitu lemak yang didapat dari tumbuhan. 2.3.3 Berdasarkan ikatan rangkap yang terdapat di struktur molekul, lemak dibedakan: a) Lemak tak jenuh, yaitu lemak yang mempunyai 1 atau lebih ikatan rangkap b) Lemak jenuh, yaitu termasuk lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap pada asam lemak penyusunnya. 2.3.4 Berdasarkan lemak penyusunnya, lemak dibedakan menjadi : a) Lemak sederhana b) Lemak berasam dua c) Lemak berasam tiga 2.4 Sifat-sifat Lipid 2.4.1 Sifat-sifat fisik lemak adalah : Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, dan benzena yang mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. 2.4.2 Sifat-sifat kimia lemak adalah : Lemak netral dengan unit penyusunnya. Asam lemak yang rantai karbonnya panjang tidak larut dalam air, larut dengan pelarut organik. Titik lebur lemak dapat dipengaruhi oleh banyak sedikitnya ikatan rangkap dari asam lemak yang menjadi penyusunnya. 2.5 Identifikasi Lipid 2.5.1 Uji kolesterol Adanya kolesterol dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi warna. Salah satu di antaranya ialah reaksi Salkowski. Apabila kolesterol dilarutkan asam sulfat pekat dengan hati-hati, maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila dikenai cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru dan yang berubah menjadi menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila ditambah anhidrida asam asetat dan asam sulfat pekat, maka larutan tersebut mula-mula akan berwarna merah, kemudian biru dan hijau. Ini disebut reaksi Lieberman Burchard. Warna hijau yang terjadi ini ternyata sebanding dengan konsentrasi kolesterol. 2.5.2 Uji peroksida Uji ini untuk menentukan derajat ketidak jenuhan asam lemak. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan rangkap, makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi. 2.5.3 Uji fosfat pada lesitin Fosfatidikolin atau lesitin berupa zat padat lunak seperti lilin, berwarna putih dan dapat diubah menjadi coklat bila terkena cahaya dan bersifat higroskopik dan bila dicampur dengan air membentuk koloid. Lesitin larut dalam semua pelarut lemak kecuali aseton. Bila lesitin dikocok dengan asam sulfat akan terjadi asam fosfatidat dan kolin. Dan dipanaskan dengan asam atau basa akan menghasilkan asam lemak, kolin, gliserol dan asam fosfat. 2.6 Reaksi Lipid 2.6.1 Reaksi hidrolisa Reaksi ini ada 3 macam: a) Hidrolisa dengan katalis enzim Enzim lipase dan pankreas sebagai steapsin dapat mengkatalis hidrolisa lemak menjadi gliserol dan asam-asam lemak. b) Hidrolisa dengan katalis oksida Zink oksida atau kalsium oksida menghidrolisa lemak menjadi asas-asam lemak dan gliserol. c) Hidrolisa dengan busa (penyabunan atau saponifikasi) Reaksi lemak dengan larutan basa kuat akan menghasilkan gliserol dan sabun. 2.6.2 Reaksi hidrogenasi Hidrogenasi lemak tidak jenuh dengan adanya katalisator dikenal sebagai pengerasan secara kormesial diguakan untuk mengubah lemak cair menjadi lemak padat. 2.6.3 Reaksi hidrogerolisis Lemak bila direaksikan dengan hydrogen pada suhu tertentu akan terbongkar menjadi gliserol dan alcohol alifatik. 2.6.4 Reaksi halogenasi Reaksi ini merupakan reaksi adisi. Biasanya digunakan bromium atau iodium. 2.6.5 Reaksi ketengikan Faktor yang dapat mempercepat reaksi ini adalah oksigen, suhu, cahaya dan logam-logam sebagai katalisator. Ketengikan pada lemak jenuh terantai pendek terjadi karena pengaruh hidrolisa pada udara lembab. Sedangkan pada lemak tak jenuh berantai panjang terjadi dalam 2 tingkat : a) Tingkat I : Hidrolisa lemak tak jenuh menjadi gliserol dan asam-asam lemak tak jenuh. b) Tingkat II : Oksidasi asam lemak tak jenuh oleh oksigen menjadi asam karboksilat berbau tengik. BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Yang Dibutuhkan : 1) Gelas ukur 2) Gelas kimia 3) Pipet tetes 4) Kaca arloji 5) Batang pengaduk 6) Spatula 7) Neraca 8) Kaki tiga, kassa asbes & pembakar spirtus 9) Rak & tabung reaksi 10) Penjepit tabung 3.1.2 Bahan Yang Dibutuhkan : 1) Kloroform 2) Alkohol 3) NaOH 20% 4) Etanol 40% 5) CaCl2 0,1 N 6) NaCl(s) 7) H2SO4 2 N 8) Lakmus biru 9) Mentega 10) Kolesterol 11) Gliserol 12) Olive Oil 13) Minyak Goreng 14) KHSO4 15) Asam asetat anhidrid 16) Filter Paper 17) H2O 2.2 Cara Kerja 2.2.1 Uji Kelarutan 1) Masukan 0,2 mL minyak goring ke dalam tabung reaksi yang telah berisi : • Tabung I : 2 mL air • Tabung II : 2 mL alkohol dingin • Tabung III : 2 mL alkohol panas • Tabung IV : 2 mL kloroform Kemudian kocok dengan hati-hati. 2) Ambil 2-3 tetes dari masing-masing tabung tersebut, kemudian teteskan pada kertas saring. Noda yang tertinggal pada kertas saring dikeringkan, adanya noda yang tertinggal menunjukan lipid yang larut dalam solvent. 2.2.2 Hidrolisa Mentega 1) 5 gram mentega dalam beaker glass, tambahkan 35 mL larutan NaOH alkoholis (20% NaOH dalam 40% etanol) tutup, kemudian panaskan di atas air mendidih sampai penyabunan sempurna. Bila penyabunan telah sempurna akan diperoleh larutan jernih tanpa tetes minyak pada permukaan yang telah diisi air. Kemudian ditambahkan 10 mL air dan dipanaskan di atas penangas air mendidih hingga semua alcohol menguap. 2) Ambil 1 mL larutan sabun hasil reaksi, masukan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan air 1 mL dan 0,5 mL CaCl2 0,1 N. Perhatikan apakah terjadi endapan. 3) Ambil 1 mL larutan sabun hasil reaksi, masukan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan air 1 mL dan NaCl padatan hingga jenuh. 4) Ambil 5 mL larutan sabun hasil reaksi, masukan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan asam sulfat 2 N 1 mL hingga asam. Perhatikan pembentukan basu asam butirat dan asam lemak lainnya yang mudah menguap. 5) Pindahkan lapisan lemak yang ada di permukaan dengan pipet ke dalam tabung reaksi, panaskan hingga asamnya hilang, lalu dinginkan. Identifikasi dengan Uji Akrolein. 2.2.3 Uji Akrolein 1) Ke dalam masing-masing tabung masukan 0,2 mL olive oil, gliserol dan hasil dari hidrolisis mentega. 2) Tambahkan 0,2 mL KHSO4, lalu panaskan pelan-pelan langsung di atas api. Perhatikan bau akrolein yang menusuk hidung. 2.2.4 Uji Lieberman-Burchard Untuk Kolesterol 1) Masukan sedikit kolesterol ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan kloroform hingga semuanya larut. 2) Tambahkan 0,2 mL asam asetat anhidrid dan 2 tetes asam sulfat pekat, kocok perlahan-lahan dan biarkan beberapa menit. Perhatikan perubahan warna. 2.3 Reaksi Yang Terjadi 2.3.1 Uji Kelarutan + Kloroform → larut + Alkohol panas → larut 2.3.2 Uji Hidrolisa mentega - 2.3.3 Uji Akrolein 2.3.4 Uji Leiberman-Burchard BAB IV HASIL PERCOBAAN 4.1 Data Percobaan 4.1.1 Uji Kelarutan Sampel Reagen + Air + Alkohol dingin + Alkohol panas + Kloroform Minyak goreng Lar. terpisah (air & minyak) Lar. lemak didasar tabung (keruh) Sebagian larut Larut Setelah diteteskan ke kertas saring maka yang terbentuk noda adalah kloroform dan alkohol panas. 4.1.2 Hidrolisa Mentega Reagen Sampel Mentega + NaOH alkoholis Larutan kuning dipanaskan Penyabunan sempurna + Air + CaCl(s) Endapan putih + Air + NaCl(s) Larutan keruh + As. Sulfat pekat Lar. keruh, di atas permukaan larutan terbentuk lapisan lemak berwarna kuning. 4.1.3 Uji Akrolein Sampel Reagen + KHSO4  panas secara langsung Olive oil Olive oil di atas permukaan (bau khas uji akrolein) Gliserol Larutan tidak berwarna (bau khas uji akrolein) Hidrolisat Mentega Larutan tidak berwarna (bau khas uji akrolein) 4.1.4 Uji Lieberman-Burchard Untuk Kolesterol Sampel Reagen + Kloroform + Asetat anhidrid + Asam sulfat Kolesterol Larut - Lar. jernih terdapat lemak di atas permukaan. - Terbentuk coklat muda di dasar tabung (setelah didiamkan beberapa menit). 4.2 Pembahasan : Pada praktikum kali ini yaitu praktikum mengenai Analisis Kualitatif Biomolekul (Lipid). Tujuannya untuk mengidentifikasi positif atau negatifnya dari suatu sampel yang diduga terdapat protein sesuai dengan sifat-sifat kimia dan fisikanya. Hasil yang tidak sesuai dengan literatur yang ada maka dikatakan uji tersebut negative, tetapi sebaliknya jika sesuai maka hal tersebut dikatakan uji tersebut berhasil atau sesuai dengan literatur. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan perubahan reaksi yang dihasilkan anatara sampel dengan reagensia. 4.2.1 Uji Kelarutan Pada uji kelarutan lipid, hampir semua jenis lipid, yaitu lemak dan minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti air, namun larut dalam pelarut non polar sepertio kloroform, eter, dan benzena. Asam oleat dan gliserol larut dalam air maupun alkohol. Hal ini disebabkan karena pada gliserol dan asam oleat mempunyai kepala polar berupa gugus -OH yang dapat berikatan hidrogen dengan molekul air ataupun alkohol. Lemak hewan dan minyak kelapa tengik dapat terdispersi menjadi misel yang megubah asam-asam lemak penyusunnya menjadi sabun. 4.2.2 Hidrolisa Mentega Pada percobaan kali ini dilakukan uji hidrolisis mentega, dengan sampel mentega simas sebanyak 5 gram. Mentega merupakan emulsi air dalam minyak dengan kira-kira 18% air terdispersi di dalam 80% lemak dengan sejumlah kecil protein yang bertindak sebagai zat pengemulsi (emulsifier). Dengan adanya air, lemak dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak. Reaksi ini dipercepat oleh basa, asam, dan enzim-enzim. Dalam percobaan kali ini juga, untuk proses penyabunan sampel atau mentega direaksikan dengan NaOH alkoholis yang mana dihasilkan larutan yang berwarna kuning jernih. Kemudian ketika rangkaian prosedur dilakukan, hidrolisat tersebut diuji dengan lakmus biru yang berubah menjadi berwarna merah. Hal tersebut menunjukan bahwa hidrolisis mentega berhasil sempurna karena asam lemak telah terpisah yang ditandai dengan perubahan lakmus tadi. 4.2.3 Uji Akrolein Pada hasil uji akrolein, gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lemak/minyak akan mengalami dehidrasi membentuk aldehid akrilat atau akrolein. Senyawa pendehidrasi dalam uji ini adalah KHSO4 yang menarik molekul air dari gliserol. Hasil uji akrolein menunjukkan bahwa semua bahan yang diuji memberikan bau yang tajam yang diidentifikasi oleh praktikan sebagai bau akrolein. Pada teorinya, hanya gliserol dalam bentuk bebas atau yang terikat berupa senyawa yang akan membentuk akrolein, sedangkan asam-asam lemak tidak. 4.2.4 Uji Lieberman-Burchard untuk kolesterol Kolesterol merupakan suatu sterol (steroid alkohol) utama dalam jaringan hewan. Sampel dilarutkan dengan kloroform, fungsi dari kloroform adalah untuk melarutkan lemak karena sifat dari lemak atau lipid adalah non polar. Sesuai dengan prinsip “like disolve like” maka senyawa non polar akan larut pada pelarut non polar. Kemudian ditambahkan dengan asam asetat anhidrid dan asam sulfat pekat. Fungsi H2SO4 untuk memutuskan ikatan ester pada lemak. Pada sampel tersebut terbentuk lapisan di atas berbentuk cincin coklat muda. terbentuknya cincin coklat muda yang menunjukkan terjadinya reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat. Warna hijau pada uji lieberman-buchard menunjukkan reaksi antara kolesterol dengan asam asetat anhidrat. Kedua uji tersebut diatas dapat digunakan untuk mengukur kadar kolesterol secara kalorimetri. BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum, serta apa yang penyusun tulis atau sampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :  Uji kelarutan dilakukan untuk menentukan pelarut mana yang cocok untuk melarutkan lemak dengan sempurna. Dari data hasil pengamatan didapat, bahwa hanya klorofom dan alkohol panas saja yang memiliki kemampuan untuk melarutkan lemak/lipid.  Uji hidrolisa mentega dilakukan berdasarkan adanya air dalam lemak dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak, sehingga reaksi ini (hidrolisis) dipercepat oleh basa, asam, dan enzim-enzim.  Uji akrolein digunakan untuk menentukan gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lemak/minyak akan mengalami dehidrasi membentuk aldehid akrilat atau akrolein.  Uji Lieberman-Burchard digunakan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol. Terbentuknya cincin coklat muda yang menunjukkan terjadinya reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat. DAFTAR PUSTAKA Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta : Binarupa Aksara Rahmania, Inti. 2008. Modul Praktikum Biokimia. Bandung: Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Al-Ghifari Sulistiyowati. dkk. 2009. Laporan Akhir Praktikum III – Analisis Kualitatif Biomolekul (Karbohidrat, Protein, Lipid & Vitamin). Semarang: FMIPA – Prgram Studi Kimia Universitas Diponegoro Semarang Rusmana. 2007. Jurnal Analisa Proksimat – Identifikasi Sampel Yang Mengandung Karbohidrat atau Protein atau Lemak. Bandung: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Bandung Ciptadi. 2003. Penuntun Praktikum Biokimia. Palangkaraya: UNPAR Hendrayana, Taufik. 2009. Uji Karbohidrat. (online) http://www.x3-prima.com/ 2009/05/uji-karbohidrat.html (02 Januari 2012) Rismaka. 2009. Karbohidrat Pada Uji Kualitatif. (online) http://www.rismaka.net/2009/ 06/karbohidrat-pada-uji-kualitatif.html (02 Januari 2012) Stepani, Florensia. 2011. Analisis Lipid.ppt . (online): _____ (04 Januari 2012) Rahayu, Dwi. 2011. Lipid.ppt . (online): _____ (04 Januari 2012) LAMPIRAN Jawaban Pertanyaan Pra Praktikum : A. Analisis Kualitatif Biomolekul (Karbohidrat): 1) Uji Molisch a. Warna ungu. b. Gugus glukosa, sukrosa, maltosa, dan arabinosa. 2) Uji Benedict a. – (tidak dilakukan). b. I2+. c. Sebagai zat pengkompleks, untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3 dalam larutan NaCO3. 3) Uji Barfoed a. Larutan karbohidrat yang termasuk golongan monosakarida, yakni fruktosa, glukosa. b. Karena pemanasan yang lama akan menghidrolisis disakarida sehingga menyebabkan terjadinya false positif. c. Reagen Barfoed bersifat asam sangat lemah dan hanya bisa direduksi oleh monosakarida. Sedangkan reagen Benedict bersifat basa, terbukti dengan komposisinya yang mengandung NaCO3. 4) Uji Seliwanoff a. Larutan fruktosa. b. Dapat, namun yang harus diperhatikan adalah cara untuk identifikasinya adalah dari kecepatan reaksinya. Jika dilihat dari hasil percobaan fruktosa yang lebih cepat bereaksi dibanding sukrosa, karena sukrosa gabungan dari glukosa dan fruktosa. 5) Hidrolisa Sukrosa Penjelasan : pada saat hidrolisat telah didapat, maka ketika dilanjutkan dengan prosedur atau ditambahkan pereaksi Benedict, Seliwanoff dan Barfoed hasilnya akan sesuai dengan apa yang direaksikan terhadap pereaksi tersebut. Karena sukrosa aka terurai menjadi glukosa dan fruktosa, sehingga hasilnya adalah Benedict = larutan menjadi biru, Seliwanoff = larutan tetap tidak berwarna dan Barfoed = Larutan biru. 6) Tes Pati Dengan Iodium Amilum B. Analisis Kualitatif Biomolekul (Protein): 1) Uji Ninhidrin a. Warna ungu. b. Gugus karboksil dan amina. c. Persamaan reaksi uji ninhidrin: 2) Uji Biuret a. Warna ungu. b. Gugus glukosa, sukrosa, maltosa, dan arabinosa. c. Albumin, kasein, gelatin, dan pepton. 3) Titik Isoelektrik Protein - C. Analisis Kualitatif Biomolekul (Lipid): 1) Uji Kelarutan - 2) Hidrolisa Mentega - 3) Uji Akrolein - 4) Uji Lieberman-Burchard untuk Kolesterol a. Kolesterol dilarutkan kedalam kloroform dan larutan ini dituangkan diatas larutan asam sulfat pekat dengan hati-hati maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila terkena cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru dan berubah menjadi warna merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila ditambahkan anhidrida asam asetat dan asam sulfat pekat, maka larutan mula-mula akan berwarna merah, kemudian biru dan hijau. Rumus molekul kolesterol : b. Karena dalam uji Lieberman-Burchard ini sering terjadi perubahan warna sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif yakni dengan metode colorimetri. Gambar :

Senin, 26 September 2011

Israel Is Not a Superpower Ronen Bergman is a senior military and intelligence analyst for Yedioth Ahronoth, an Israeli daily. He is currently writing a book about the Mossad and the art of assassination. Jews are known for answering questions with another question, so I’d add a third question to this discussion: Would an end to the Israeli-Palestinian conflict end the Israeli-Arab conflict? Or more concretely, did the forced departure of the Israeli ambassadors from the country’s two main strategic bastions in the Middle East — Turkey and Egypt — spring from the fact that an independent Palestine has not yet been established, or is it the result of hatred toward Israel, a hatred that will never die? Hatred of Israel in the Arab world is not a reason for prolonging the frozen posture that the Israeli government has adopted. At a recent conference on terrorism, right-wing Israelis, including some cabinet ministers, said that Palestinian statehood was motivated by hatred. According to their reasoning, there’s little value in settling the conflict with the Palestinians, because the Palestinians cannot or do not want a peaceable solution that will ensure both countries can live side by side. They believe that the majority of Arabs will continue to back actions detrimental to Israel in an attempt to do away with the Jewish state. All we can do, according to this view — one that is shared by Prime Minister Benjamin Netanyahu — is to go on living by the sword while trying to reach limited and partial solutions to contain the situation and gain time. Although this approach is not entirely devoid of logic, it should be firmly rejected. Israel’s deteriorating international situation demands immediate diplomatic action. The occupation of the West Bank is almost universally condemned as illegitimate, and if Israel continues to insist that it cannot exist without that territory, it is in danger of losing its own legitimacy as well. Interactive: The Battle of the Barrier Israelis have yet to feel the country’s declining stature in their pockets, but the day is not far off. Israel cannot carry on as usual without reaching a substantial compromise on the Palestinian issue. The country is not a superpower, and it had better stop trying to behave like one. The establishment of a Palestinian state presents many dangers for Israel. The gravest of these was described by Yuval Diskin, the former head of the Shin Bet, Israel’s internal security organization, as “two states for three peoples,” a reference to the bottomless rift between the moderate Fatah and the fundamentalist Hamas. What will happen in the Hamas-ruled Gaza Strip if a state that encompasses the strip and most of the West Bank arises? Would Hamas and the other Jihadist movements give up their demand for the “dismantling of the Zionist entity”? We can assume that at least some of them will not, and that will mean further rounds of warfare. Regrettably, a Palestinian state will not mean that 130 years of bloodshed will come to an end, and neither will the hatred of Israel in the Arab world. This, however, is not sufficient reason or justification for prolonging the frozen posture that the Israeli government has adopted. Israel would benefit if the next rounds are fought from a position of international legitimacy.

Senin, 18 Juli 2011

LAPORAN KROMATOGRAFI KERTAS

BAB I
TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN


1.1 Judul Percobaan
Kromatografi

1.2 Tujuan Percobaan
 Untuk memisahkan campuran menjadi berbagai komponen (warna).
 Untuk menentukan nilai Rf dari masing-masing komponen (warna).

1.3 Prinsip Percobaan
Berdasarkan pemisahan komponen-komponen atas perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fasa diam (kertas) di bawah gerakan fasa gerak (campuran pelarut organik).

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kromatografi
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Bila fase diam berupa zat padat yang aktif, maka dikenal istilah kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fase diam berupa zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi pembagian (partition chromatography).

2.2 Jenis-jenis Kromatografi
Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu gas chromatography dan liquid chromatography. Masing-masing golongan dapat dibagi lagi seperti yang telah disebutkan pada definisi di atas.

Skema Pembagian Kromatografi


Pembagian ini selanjutnya dapat dibagi lagi seperti terlihat pada skema berikut:
1) Kromatografi Gas :
a. GLC (Gas Liquid Chromatography)
b. GSC (Gas Solid Chromatography)
2) Kromatogarafi Cair :
a. HPLC (High Performance Liguid Chromatography)
b. LLC (Liquid Liquid Chromatography) - PC (Paper Chromatography)
c. LSC (Liquid Solid Chromatography) - TLC (Thin Layer Chromatography), Kolom
d. Ion Excange
e. Ekslusi : - GP (Gel Permeation)
- GF (Gel Filtration)

A. Liquid Liquid Chromatography (LLC)
LLC adalah kromatografi pembagian dimana partisi terjadi antara fase gerak dan fase diam yang kedua-duanya zat cair. Dalam hal ini fase diam tidak boleh larut dalam fase gerak. Umumnya sebagai fase diam digunakan air dan sebagai fase gerak adalah pelarut organik. Misalnya pada kromatografi kertas, sebagai fase diam adalah air yang terserap pada serat selulosa dari kertas.

B. Paper Chromatography (PC)
Kromatografi kertas termasuk dalam kelompok kromatografi planar, dimana pemisahannya menggunakan medium pemisah dalam bentuk bidang (umumnya bidang datar) yaitu benuk kertas. Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula.
Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang sangat seragam. Fase gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Berbagai jenis pemisahan yang sederhana dengan Kromatografi kertas telah dilakukan dimana proses dikenal sebagai "analisa Kapiler". Metoda-metoda ini sangat sesuai dengan kromatografi serapan, dan sekarang kromatografi kertas dipandang sebagai perkembangan dari sistem partisi.
Salah satu zat padat dapat digunakan untuk menyokong fasa tetap yaitu bubuk selulosa. Pada kromatografi Kertas peralatan yang dipakai tidak perlu alat-alat yang teliti atau mahal. Hasil-hasil yang baik dapat diperoleh dengan peralatan dan materi-materi yang sangat sederhana. Senyawa-senyawa yang terpisahkan dapat dideteksi pada kertas dan dapat segera diidentifikasikan. Bahkan jika dikehendaki, komponen-komponen yang terpisahkan dapat diambil dari kertas dengan jalan memotong-motongnya, kemudian dilarutkan secara terpisah.

C. Liquid Solid Chromatography (LSC)
LSC adalah kromatografi penyerapan. Sebagai adsorben digunakan silika gel, alumina, penyaring molekul atau gelas berpori dipak dalam sebuah kolom dimana komponen-komponen campuran dipisahkan dengan adanya fase gerak. Kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis (TLC) merupakan teknik pemisahan yang masuk golongan ini.

D. Ion-Exchange Chromatography
Teknik ini menggunakan zeolitas, resin organik atau anorganik sebagai penukar ion. Senyawaan yang mempunyai ion-ion dengan afinitas yang berbeda terhadap resin yang digunakan dapat dipisahkan. Analisa asam-asam amino adalah yang umum dilakukan dengan cara ini. Contoh lain adalah asam-asam nukleat dan analisis garam-garam anorganik.

E. Exclusion Chromatography
Dalam teknik ini, gel nonionik berpori banyak dengan ukuran yang sama digunakan untuk memisahkan campuran berdasarkan perbedaan ukuran molekulnya (BM). Molekul-molekul yang kecil akan memasuki pori-pori dari gel sedangkan molekul besar akan melewati sela-sela gel lebih cepat bila dibandingkan dengan molekul yang melewati pori-porinya. Jadi urutan elusi mula-mula adalah molekul yang lebih besar, molekul sedang, dan terakhir molekul yang paling kecil. Bila sebagai penyaring digunakan gel yang hidrofil (Sephadex) maka teknik ini disebut gel filtration chromatography dan bila digunakan gel yang hidrofob (polystyrene-divinylbenzene) disebut gel permeation chromatography.
Teknik kromatografi yang umum digunakan di bidang farmasi yaitu kromatografi kolom, kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi gas, dan high performance liquid chromatography (kromatografi cair kinerja tinggi / KCKT).

Koefisien Distribusi
Distribusi dari molekul-molekul sampel diantara dua fase ditentukan oleh tetapan kesetimbangan yang dikenal dengan koefisien distribusi, K (koefisien partisi).

K = Koefisien partisi
Cs = Konsentrasi sampel dalam fase diam (stationary phase)
Cm = Konsentrasi sampel dalam fase gerak (mobile phase)
Bila harga K, besar berati populasi molekul dalam fase diam lebih besar dari pada fase gerak dan berarti rata-rata lebih lama tertahan dalam fase diam.


Faktor Kapasitas


K’ Adalah nilai yang menunjukkan seberapa kuay komponen-komponen dalam sampel yang dibawa oleh fase gerak berinteraksi dengan kolom (fase diam).

Laju Pemisahan
Apabila bagian waktu yang dibutuhkan oleh molekul sampel pada fase gerak dikalikan dengan kecepatan linier (u) dari fase gerak maka diperoleh laju pemisahan (rate of travel) dari molekul rata-rata.

Jadi, laju pemisahan ditentukan oleh :
1. Kecepatan fase gerak (sama untuk tiap komponen campuran).
2. Perbandingan dari volume fase diam dengan fase gerak (sama untuk tiap komponen campuran).
3. Koefisien distribusi (spesifik untuk tiap komponen campuran).
Retention Time
Waktu yang diperlukan oleh sebuah komponen sampel untuk melintasi kolom sepanjang L disebut ‘retention time’ (t). Dari definisi ini, laju pemisahan diperoleh:

Persamaan ini merupakan persamaan dasar untuk semua jenis kromatografi. Dalam praktek sering diterapkan pada kromatografi gas dan definisinya dapat diubah menjadi retention time, yaitu waktu yang diperlukan oleh sampel mulai dari saat injeksi sampai timbulnya peak maksimum.

Retention Volume
Bila kecepatan dari fase gerak konstan, maka volume dari fase gerak yang diperlukan untuk memisahkan suatu komponen campuran dari kolom dapat dihitung dengan rumus berikut : Volume = waktu × kecepatan aliran
VR = tRF
Bila persamaan retention time disubstitusikan ke dalam persamaan ini maka diperoleh:
VR = Vm (1 + K’) = Vm + KVs
Vm = Volume dari fase gerak dalam kolom
Vs = Volume dari fase diam
Bila fase diam berupa zat padat maka Vs dapat dirubah menjadi luas permukaan / area adsorption) atau dengan kapasitas penukar ion.

Relative Retention (selektifitas, α)
Relative Retention adalah nilai yang menunjukkan seberapa baik sistem kromatografi dapat memisahkan dua komponen. Retention time dan retention volume kurang tepat jika dipakai untuk identifikasi dengan membandingkan data-data lainnya karena hargaharga ini sangat tergantung dari cara pembuatan kolom dan kondisi percobaan. Untuk menghilangkan efek dari operasional variabel, maka lebih baik digunakan harga relative retention yaitu perbandingan antara retention time sampel dengan retention time standar yang diperoleh dari kolom yang sama dengan kondisi percobaan yang sama.

Plate Theory (N)
Martin dan Synge melihat adanya persamaan proses yang terjadi pada kolom kromatorafi dengan kolom destilasi bertingkat kemudian menerapkan konsep “theoretical rate” pada pemisahan dengan destilasi ke dalam kromatografi.
Harga N ditentukan oleh kontruski kolom, sifat sampel. Flow rate, temperature, cara memasukkan sampel dll. Ada 2 cara memperbesar harga N yaitu dengan memperpanjang kolom dan dengan memperpanjang jumlah keseimbangan (equilibrium) alam jangka waktu yang sama.

Rate Theory
Dalam praktek harga H selalu lebih besar dari harga idealnya (nol) yang berarti terjadi pelebaran peak. Pelebaran ini disebabkan oleh 3 faktor yaitu:
1) Efek Perbedaan Jarak (Eddy Diffusion)
Perbedaan jarak yang dilalui oleh molekul yang satu dengan yang lain disebabkan perbedaan bentuk, ukuran partikel-partikel pengisi kolom, cara pengisian kolom, dan diameter dari kolom. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan waktu keluarnya molekul-molekul dari kolom. Untuk memperkecil efek ini, digunakan partikel-partikel kecil yang serba sama tetapi tidak menyebabkan penurunan tekanan dalam kolom terlalu tinggi, diameter kolom yang kecil, pengepakan yang mampat dan serba sama tanpa memecahkan partikel-partikel pengisi kolom tersebut.
2) Difusi Molekul Sepanjang Kolom
Molekul-molekul cenderung untuk berdifusi dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasiya rendah. Akibatnya, waktu melintasi kolom, molekul-molekul akan menyebar (berdifusi) ke belakang dan ke depan.
3) Efek Ketidaksinambungan
Aliran yang terus-menerus dari fase gerak menyebabkan penyimpangan dari keseimbangan dimana Cs/Cm selalu lebih kecil dari K pada tepi zona yang didepan dan selalu lebih besar pada tepi zona yang di belakang seperti terlihat pada gambar di atas (c). Pada partition chromatography, efek ini makin nyata bila kekentalan fase diam makin tinggi.

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan yang dibutuhkan
1) Kertas Saring
2) Beaker glasss 300 mL
3) Kaca Arloji
4) Pipa kapiler
5) Amil alkohol
6) Etanol 95%
7) Amoniak 2M
8) Aquadest

3.2 Cara Kerja
1) Tuangkan ke dalam beaker glass 300 mL campuran dari 10 mL amil alcohol, 10 mL etanol 95% dan 10 mL amoniak 2M, kemudian tutup rapat dengan kaca arloji. Biarkan hingga 5 menit, agar atmosfer dalam beaker glass menjadi jenuh oleh uap pelarut untuk meningkatkan daya pelarut.
2) Potong kertas saring hingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 3 cm × 10 cm, kemudian buatlah garis dengan pensil dari ujung atas dan ujung bawah masing-masing 2 cm.
3) Totolkan sampel pada bagian tengah garis ujung bawah yang telah dibuat dengan menggunakan pipa kapiler, biarkan noda mongering, kemudian totolkan sampel sekali lagi.
4) Masukan kertas saring tersebut ke dalam beaker glass dan pastikan miniskus pelarut berada di bawah garis noda. Beaker glass ditutup dan biarkan pelarut bergerak ke atas sepanjang kertas saring dan jangan biarkan pelarut mencapai ujung kertas.
5) Jika pelarut hendak mendekati ujung atas kertas saring, maka segera keluarkan kertas dari beaker glass dan beri tanda posisi pelarut dengan pensil kemudian biarkan kertas saring mongering. Kemudian hitung Rf dari setiap komponen.
BAB IV
HASIL PERCOBAAN


4.1 Data Percobaan :

NODA JARAK WAKTU
Merah muda

Kuning

Pelarut 4,80 cm
5,75 cm
7,00 cm 22 : 34 : 99

4.2 Perhitungan :



1) Merah muda

Rf =



=


= 0,69 cm

2) Kuning

Rf =



=



= 0,82 cm


4.3 Pembahasan :
Pada praktikum kali ini yaitu praktikum mengenai Krmatografi Kertas. Kromatografi ini termasuk salah satu analisis pemisahan, yang tujuannya untuk memisahkan berbagai komponen yang ada dalam suatu sampel. Dengan prinsipnya, memisahkan komponen-komponen atas perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fasa diam yang berupa kertas di bawah gerakan fasa gerak yaitu campuran pelarut organic (amyl alcohol, etanol 95% dan amoniak 2M).
Pada kromatografi kertas sampel yang dipergunakan yaitu kunyit (Curcuma domestica) yang berwana dominan kuning dengan bintik merah. Proses preparasi sampel pada kromatografi kertas, yaitu serbuk sampel ditambahkan pelarut alcohol.
Pada kromatografi kertas, fasa diam yang dipergunakan adalah kertas yang sangat beragam dan saat praktikum dipergunakan kertas saring yang dipotong persegi panjang (10 cm × 3 cm), dengan fasa gerak campuran pelarut organic :10 mL amyl alcohol, 10 mL etanol 95% dan 10 mL amoniak 2M. Tidak seperti pada KLT, pada kromatografi kertas prosesnya cukup cepat, selain proses penetesan sampel tidak terlalu rumit, kromatografi kertas juga tidak perlu menunggu fasa diam kering untuk meneteskan sampel.
Sebelum noda sampel diteteskan, terlebih dahulu kertas saring diberi garis dengan menggunakan pensil untuk membuat jarak antara noda dengan pelarut dibawahnya, dan yang kedua adalah membuat tanda untuk meneteskan sampel yang berjarak ± 2 cm. Pada saat praktikum penetesan sampel dilakukan menggunakan pipa kapiler, saat penetesan noda sampel, fasa diam berada dalam posisi mendatar dan noda dibiarkan mengering (± 2-3 menit) terlebih dahulu sebelum dimasukan ke dalam bejana yang berisi fasa gerak. Penetesan noda yang terlalu banyak harus dihindari, karena kelebihan setiap komponen akan menyebabkan tidak akan tercapainya kesetimbangan partisi selama ia bergerak, hingga ia akan mengakibatkan terjadinya kedudukan atau lokasi yang kabur.
Setelah noda sampel mengering, kertas dimasukan ke dalam bejana sudah jenuh dengan fasa gerak, kertas saring berisi noda yang sudah kering tersebut diposisikan tegak berdiri dan bagian bawahnya terbenam dalam fasa gerak. Metoda yang dipakai dalam kromatografi kertas ini adalah metoda penaikan, yaitu kertas dicelupkan hingga ujung di mana aliran mulai bergerak terletak sedikit di atas permukaan dari pelarut dan pelarut naik melalui serat-serat dari kertas oleh gaya kapiler. Kertas sebagai serat-serat selulosa dengan lapisan yang sangat tipis dari molekul-molekul air yang berikatan pada permukaan.




Interaksi ini dengan air merupakan efek yang sangat penting selama pengerjaan kromatografi kertas. Noda-noda yang naik dari sampel daun menir ini terdiri dari 2 warna, yaitu merah muda dan kuning. Jarak yang ditempuh dari masing-masing warna adalah merah muda : 4,80 cm dan kuning : 5,75 cm. Sedangkan jarak yang ditempuh pelarut adalah 7,00 cm. Dari data tersebut maka harga Rf untuk masing-masing warna adalah, warna merah muda 0,69 cm dan warna kuning 0,82 cm. Harga Rf dari kromatografi kertas ini cukup tinggi, salah satu penyebabnya adalah dalam penggunaan fasa gerak, molekul-molekul polar akan memiliki atraksi yang tinggi untuk molekul-molekul air dan kurang untuk pelarut yang non polar. Molekul-molekul polar dalam campuran sampel memiliki sedikit atraksi antara molekul-molekul air dan molekul-molekul yang melekat pada selulosa, karena akan menghabiskan banyak waktunya untuk larut dalam pelarut yang bergerak. Molekul-molekul seperti ini akan bergerak sepanjang kertas diangkut oleh pelarut. Hal inilah yang menyebabkan nilai Rf menjadi tinggi.











BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, serta apa yang penyusun tulis atau sampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :
 Kromatografi kertas termasuk dalam kelompok kromatografi planar, dimana pemisahannya menggunakan medium pemisah dalam bentuk bidang (umumnya bidang datar) yaitu bentuk kertas.
 Kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula.
 Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi diantaranya :
a. Kromatografi merupakan metoda pemisahan yang cepat, mudah dan menggunakan peralatan yang murah serta sederhana, kecuali untuk kromatografi gas, hingga campuran yang kompleks dapat dipisahkan dengan mudah.
b. Kromatografi hanya membutuhkan campuran cuplikan.yang sangat sedikit sekali, bahkan tidak menggunakan jumlah yang besar, disamping itu kromatografi pekerjaannya dapat diulang.











5.2 Saran
Adapun saran yang bisa penulis sampaikan, diantaranya :
 Keberadaan laboratorium di Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Al-Ghifari sangat penting, untuk itu perlu ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai baik kualitas maupun kuantitas analisa.
 Mengganti peralatan di laboratorium yang sudah tidak layak pakai, sesuai dengan kebutuhan.
 Meningkatkan kesadaran para karyawan dan mahasiswa pada saat melakukan kegiatan praktikum, dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja dengan menggunakan alat pelindung seperti : jas laboratorium, masker, sarung tangan dsb.
 Meningkatkan kedisiplinan para karyawan, mahasiswa dan siswa pada saat di laboratorium.
 Lebih meningkatkan pelayanan karyawan terhadap para praktikan terutama bagian laboratorium dan analisis pada saat praktikum berlangsung.
 Melengkapi alat-alat praktikum dan bahan penunjang praktikum lainnya.
















DAFTAR PUSTAKA


Rahmania, Inti. 2007. Modul Praktikum Kimia Analitik. Bandung: Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Al-Ghifari

Rusmana, dkk. 2008. Laporan Praktek Kerja Industri Di Laboratorium Teknik Kimia – Analisis Mikrobiologi Dan Analisis Kimia Instrument. Bandung: Program Studi Teknik Kimia - Fakultas Teknologi Industri – ITB Institut Teknologi Bandung

Dede. 2008. Modul Analisis Pemisahak (Kromatografi). Bandung: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Bandung

Rusmana. 2009. Jurnal Analisa Pemisahan (Kromatografi Kertas dan Thin Layer Chromatography). Bandung: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Bandung

Clark, Jim. 2007. Kromatografi Kertas. (online): http://www.chem-istry.org/ materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/kromatografi_kertas/

_______. 2010. Identifikasi Nilai Rf Pada Analisa. (online): http://btagallery. blogspot.com/2010/02/identifikasi-nilai-rf-pada-analisa.html











LAMPIRAN

Gambar Hasil Percobaan:




Gambar. Paper Chromatography

LAPORAN PENETAPAN KOMPLEKSOMETRI

BAB I
TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN


1.1 Judul Percobaan
Kompleksometri

1.2 Tujuan Percobaan
Untuk menentukan kadar ion logam (Ca dan Mg).

1.3 Prinsip Percobaan
Berdasarkan pembentukan senyawa kompleks yang larut antara ion logam dengan zat pembentuk kompleks.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kompleksometri
Titrasi kompleksometri atau kelatometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan : M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O.
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi permolekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.

Gambar. Struktur EDTA
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue.
Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia adala ion sianida, CN-, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion nikel membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu.
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+dengan indikator murexide.
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium.
Reaksi-reaksi yang melibatkan pembentukan kompleks dipergunakan oleh kimiawan dalam prosedur titrimetrik maupun gravimetrik. Molekul yang bertindak sebagai ligan biasanya memiliki atom elektronegatif, misalnya nitrogen, oksigen, atau salah satu dari halogen. Ligan yang hanya mempunyai sepasang electron tak dipakai bersama, misalnya NH3, dikatakan unidentat.Ligan yang mempunyai dua gugus yang mampu membentuk dua ikatan dengan atom sentral dikatakan bidentat. Suatu contoh adalah etilendiamin (NH2CH2CH2NH2) dengan kedua atom nitrogen mempunyai pasangan electron tak terpakai bersama. Ion tembaga (II) membentuk kompleks dengan dua molekul etilendiamin seperti berikut :
Cincin heterosiklik terbentuk oleh interaksi suatu ion logam dengan dua atau lebih gugus fungsional dalam ligan dinamakan cincin khelat; molekul organiknya pereaksi pembentuk khelat, dan kompleksnya dinamakan khelat atau senyawa khelat. Penggunaan analitik didasarkan pada penggunaan pereaksi khelat sebagai titran untuk ion-ion logam telah menunjukan pertumbuhan menarik.
Kompleksometri merupakan metoda titrasi yang pada reaksinya terjadi pembentukan larutan atau senyawa kompleks dengan kata lain membentuk hasil berupa kompleks. Untuk dapat dipakai sebagai dasar suatu titrasi, reaksi pembentukan kompleks disamping harus memenuhi persyaratan umum titrasi, maka kompleks yang terjadi harus stabil. Titrasi ini biasanya digunakan untuk penetapan kadar logam polivalen atau senyawanya dengan menggunakan Na2EDTA sebagai titran pembentuk kompleks.

Logam Ligan Kompleks Bilangan
Ko. logam Geometri Reaktivitas
Ag+ NH3 Ag(NH3)2+ 2 Liniar Labil
Hg2+ Cl- HgC12 2 Liniar Labil
Cu2+ NH3 Cu(NH3)42+ 4 Tetrahedral Labil
Ni2+ CN- Ni(CN)42- 4 Persegi planar Labil
Co2+ H2O CO(H2O)62+ 6 Oktahedral Labil
Co3+ NH3 Co(NH3)63+ 6 Oktahedral Inert
Cr3+ CN- Cr(CN)63- 6 Oktahedral Inert
Fe 3+ CN- Fe(CN)63- 6 Oktahedral Inert
Tabel. Kompleksometri

Hanya beberapa ion logam seperti tembaga, kobal, nikel, seng, cadmium, dan merkuri (II) membentuk kompleks stabil dengan nitrogen seperti amoniak dan trine. Beberapa ion logam lain, misalnya alumunium, timbale, dan bismuth lebih baik berkompleks dengan ligan dengan atom oksigen sebagai donor electron. Beberapa pereaksi pembentuk khelat, yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen terutama efektif dalam pembentukan kompleks stabil dengan berbagai logam. Dari ini yang terkenal ialah asam etilen-diamintetraasetat, kadang-kadang dinyatakan asam etilendinitrilo, dan sering disingkat sebagai EDTA :
Kilon praktis telah membuat suatu revolusi pada kimia analitik dari banyak unsur logam dan merupakan hal yang sangat penting dalam banayak lapangan. Reaksi pengkomplekan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H2O atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang lama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidental mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejati di mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistem itu dibiarkan mencapai kesetimbangan.
Ikatan pada EDTA, yaitu ikatan N yang bersifat basa mengikat ion H+ dari ikatan karboksil yang bersifat asam. Jadi dalam bentuk Ianitan pada EDTA ini terjadi reaksi intra molekuler (maksudnya dalam molekul itu sendiri), maka rumus senyawa tersebut disebut "zwitter ion". EDTA dijual dalam bentuk garam natriumnya, yang jauh lebih mudah larut daripada bentuk asamnya.
Reaksi pengkompleksan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H2O atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang sama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidentat mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejauh mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistern itu dibiarkan mencapai kesetimbangan
Ligan dapat berupa suatu senyawa organik seperti asam sitrat, EDTA, maupun senyawa anorganik seperti polifosfat. Untuk memperoleh ikatan metal yang stabil, diperlukan ligan yang mampu membentuk cincin 5-6 sudut dengan logam misalnya ikatan EDTA dengan Ca. Ion logam terkoordinasi dengan pasangan electron dari atom-atom N-EDTA dan juga dengan keempat gugus karboksil yangh terdapat pada molekul EDTA. Ligan dapat menghambat proses oksidasi, senyawa ini merupakan sinerjik anti oksidan karena dapat menghilangkan ion-ion logam yang mengkatalisis proses oksidasi.

Titrasi Khelometrik
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi yang kuat dengan logamnya. Untuk memudahkan, bentuk asam EDTA bebas sering kali disingkat menjadi H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi sebagian dari EDTA tanpa kerusakan lengkap dari kompleks iogam mungkin terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti CuHY-; tetapi pada kondisi biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan dikoordinasikan dengan ion logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida mungkin menembus lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH)Y3- dapat terjadi.
Efek Kompleks
Zat-zat lain dari titran kilon yang mungkin ada dalam larutan ion logam dapat membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian bersaing dengan reaksi titrasi yang diinginkan.Sebenarnya pembentukan kompleks demikian kadang-kadang dengan pertimbangan digunakan untuk mengatasi interferensi, yang dalam hal ini efek dari pengompleks disebut penutupan. Dengan ion-ion logam tertentu yang dengan mudah terhidrolisa, mungkin perlu untuk menambahkan ligan pengompleks agar mencegah pengendapan hidroksida logam. Jika tetapan stabilitas untuk semua kompleks diketahui, maka efek pembentukankompleks terhadap reaksi titrasi EDTA dapat dihitung.
Efek Hidrolisa
Hidrilisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik. Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran ke keseimbangan yang benar dari jenis M2+ + H2O  M(OH)+ H+.
Hidrolisa secara ekstensif dapat mengakibatkan pengendapan hidroksida yang hanya bereaksi dengan EDTA secara perlahan-lahan, bahkan apabila pertimbangan pertimbangan keseimbangan menguntungkan pembentukan khelonat logam. Sekali pun seringkali tetapan hidrolisa yang cocok untuk ion-ion logam tidak tersedia, dan karenanya pengaruh ini sering tidak dapat dihitungdengan teliti.



2.2 Kestabilan Kompleks
Kestabilan suatu kompleks jelas akan berhubungan dengan (a) kemampuan mengkompleks dari ion logam yang terlihat, dan (b) dengan ciri khas ligan itu, yang penting untuk memeriksa faktor-faktor ini dengan singkat.
a) Kemampuan mengkompleks logam-logam digambarkan dengan baik menurut klasifikasi Schwarzenbach, yang dalam ganis besarnya didasarkan atas pembagian logam menjadi asam lewis (penerima pasangan electron) kelas A dan kelas B. Logam kelas A dicirikan oleh larutan afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen, dan membentuk kompleks yang paling stabil engan anggota pertamagrup table berkala. Kelas B lebih mudah berkoordinasi dengan I-daripada dengan f dalam larutan air dan membentuk kompleks terstabil dengan atom penyumbang kedua dari masing-masing grup itu yakni Nitrogen, Oksigen, dan F, Cl, C dan P. Konsep asam basa keras dan lunak adalah berguna dalam menandai ciri-ciri perilaku penerima pasangan electron kelas A dan kelas B.
b) Ciri-ciri khas ligan, dapat mempengaruhi kestabilan kompleks diman aligan itu terlibat, adalah (i) kekuatan basa dari ligan itu, (ii) sifat-sifat penyepitan, jika ada, dan (iii) efek-efek sterik (ruang). Efek sterik yang paling umum adalah efek oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan dengan atom penyumbang.

2.3 Cara-cara Titrasi EDTA
Titrasi secara khelatometri telah dilakukan dengan baik terhadap semua kation biasa. Jenis-jenis titrasinya adalah :
a) Titrasi Langsung
Titrasi ini dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan indikator logam. Pereaksi pembentukan kompleks, seperti sitrat dan tartrat, sering ditambahkan untuk pencegahan endapan hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl dengan pH 9 sampai 10 sering digunakan untuk logam yang membentuk kompleks dengan amoniak.
b) Titrasi Kembali
Titrasi ini digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTAlambat atau apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih dan yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan calmagnite sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas relative rendah dan kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium. Cara ini dapat juga untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di dalam PbSO4 dan Ca dalam CaSO4.
c) Titrasi Substitusi
Titrasi ini berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks Mg-EDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+, menggantikan magnesium dari kompleks EDTA yang relative lemah itu.
d) Titrasi Secara Tidak Langsung
Titrasi ini beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan sebagai MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar larut lalu menitrasi kelebihan Mg.
e) Cara titrasi alkalimetri, dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan analat yang bereaksi netral. Ion hydrogen yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku basa.

2.4 Indikator Logam
Indikator logam adalah suatu indicator terdiri dari suatu zat yang umumnya senyawa organic yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk senyawa kompleks yang warnanuya berlainan dengan warna indikatornya dalam keadaan bebas. Warna indicator asam basa akan tergantung, pada pH larutannya, sedangkan warna indicator logam sampai batas tertentu bergantung pada pM. Oleh karena itu indicator logam sering disebut sebagai "pM-slustive indicator" atau metalochrome-indikator.

Beberapa macam indicator logam yang digunakan adalah sebagai berikut :

1) Eriochrome Black - T
2) Murexide
3) Xylanol Orange (XO)
4) Calmagnite
5) Arsenazo I
6) NAS
7) Pyrocatechol Violet
8) Calcon



BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat Yang Dibutuhkan
1) Buret
2) Klem & Statif
3) Labu ukur 100 mL
4) Labu Erlenmeyer
5) Gelas ukur / Beaker glass
6) Pipet seukuran / Pipette volume
7) Pipet tetes
8) Kaca arloji
9) Corong kaca
10) Batang pengaduk
11) Spatula
12) Neraca

3.1.2 Bahan Dang Dibutuhkan

1) Na2EDTA 0,1 M
2) ZnSO4 0,1 M
3) Buffer pH 10
4) Indikator EBT
5) Sampel (CaCO3 0,1 M)
6) Sampel (MgSO4 . 7H2O 0,1 M)
7) H2O






3.2 Cara Kerja
3.2.1 Standarisasi Larutan Na2EDTA
1) Pipet 10 mL larutan ZnSO4 ke dalam labu ukur 100 mL dan encerkan sampai dengan tanda batas.
2) Pipet 25 mL ke dalam Erlenmeyer, tambahkan 3 mL buffer salmiak pH 10 dan 5 tetes EBT.
3) Titrasi dengan Na2EDTA hingga terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
4) Hitung konsentrasi larutan EDTA tersebut.

3.2.2 Penentuan Kadar Ca2+ Dalam CaCO3 0,1 M
1) Pipet 10 mL larutan CaCO3 0,1 M ke dalam labu Erlenmeyer 100 mL.
2) Tambahkan 3 mL buffer salmiak pH 10 dan 5 tetes EBT.
3) Titrasi dengan Na2EDTA hingga terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
4) Hitung kadar Ca tersebut.

3.2.3 Penentuan Kadar Mg2+ Dalam MgSO4 . 7H2O 0,1 M
1) Pipet 10 mL larutan MgSO4 . 7H2O 0,1 M ke dalam labu Erlenmeyer 100 mL.
2) Tambahkan 3 mL buffer salmiak pH 10 dan 5 tetes EBT.
3) Titrasi dengan Na2EDTA hingga terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
4) Hitung kadar Mg tersebut.


3.3 Reaksi Yang Terjadi

Mg2+ + H2Y2- ↔ MgY2- + 2H+

Ca2+ + H2Y2- ↔ CaY2- + 2H+


BAB IV
HASIL PERCOBAAN


4.1 Data Percobaan

4.1.1 Data Penimbangan
Nama Zat B e r a t
Na2EDTA 3,721 gram
ZnSO4 1,623 gram
MgSO4 . 7H2O 2,463 gram
CaCO3 0,999 gram


4.1.2 Penentuan Kadar Ca2+ dan Mg2+
a) Ca2+ :
Titrasi I II III
Volume akhir 20,20 mL 32,70 mL 34,40 mL
Volume awal 18,20 mL 30,35 mL 32,70 mL
Pemakaian 2,00 mL 1,35 mL 1,70 mL
Rata-rata 1,68 mL

b) Mg2+ :
Titrasi I II III
Volume akhir 18.22 mL 28,26 mL 42,26 mL
Volume awal 6,00 mL 18,22 mL 28,26 mL
Pemakaian 14,22 mL 14,04 mL 14,00 mL
Rata-rata 14,09 mL




4.2 Perhitungan :
4.2.1 Standarisasi Larutan Na2EDTA

[Na2EDTA] = 0,1 N *


* : Kenormalan larutan Na2EDTA menggunakan perhitungan saat pembuatannya, karena zat untuk
menstandarisasinya tidak bagus.

4.2.2 Penentuan Kadar Ca2+ Dalam CaCO3 0,1 M

% Ca2+ =


=


=


= 6,72 %

4.2.3 Penentuan Kadar Mg2+ Dalam MgSO4 . 7H2O 0,1 M

% Mg2+ =


=


=


= 13,90 %




4.3 Pembahasan :
Pada praktikum kali ini yaitu praktikum mengenai Titrasi Kompleksometri atau Titrasi Pembentukan Senyawa Kompleks. Kompleksometri ini termasuk salah satu analisis kimia kuantitatif, yang tujuannya untuk menentukan kadar atau pun konsentrasi dalam suatu sampel. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan reaksi pembentukan senyawa kompleks dengan EDTA, sebagai larutan standar dengan bantuan indikator tertentu. Titik akhir titrasi ditunjukan dengan terjadinya perubahan warna larutan, yaitu dari merah anggur menjadi biru.
Pada saat sampel zink sulfat yang dititrasi dengan larutan EDTA yang tidak berwarna dengan bantuan indikator EBT, akan terbentuk warna biru yang langsung hilang (mencapai kondisi titik ekivalen). Namun jika telah mencapai titik akhir titrasi maka warna yang terbentuk akan tetap berwarna biru. Hal tersebut terjadi karena mek EDTA = mek Analat.
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnyabebas dari interaksi yang kuat dengan logamnya.
Untuk mernudahkan, bentuk asam EDTA bebas sering kali disingkat H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi sebagian dari EDTA tanpa kerusakan lengkap dari kompleks logam mungkin terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti CuHY- tetapi pada kondisi biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan dikoordinasikan dengan ion logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida mungkin menembus lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH)Y3- dapat terjadi.
Titrasi kompleksometri sangat dipengaruhi oleh pH. Hanya pada harga-harga pH lebih besar kira-kira 12, kebanyakan EDTA ada dalam bentuk tetraanion Y'-. Pada harga-harga pH yang lebih rendah, zat yang berproton HY3-, dan seterusnya, ada dalam jumlah berlebihan. Jelaslah bahwa kecenderungan yang sebenarnya untuk membentuk khelonat logam pada sembarang pH tidak dapat diperbedakan langsung.
Pada dasarnya indikator metalokhromik merupakansenyawa organik berwarna, yang membentuk khelat dengan ion logam. Khelatnya harus mempunyai warna lain dari warana indikator bebasnya, dan jika suatu kosong indikator harus dihindari dan titik akhir yang tajam diperoleh, maka indicator harus melepaskan ion logamnya kepada titran EDTA pada suatu harga pM sangat dekat dengan titik ekivalen. Indicator metalokhromik biasa juga mempunyai sifat asam-basa dan tanggap sebagai indikator pH maupun sebagai indikator terhadap PM.
Dalam air sumur selalu terlarut sejumlah garam kalsium dan atau magnesium baik dalam bentuk garam klorida maupun garam sulfat. Adanya garam-garam ini menyebabkan air menjadi sadah yaitu tidak dapat menghasilkan busa jika dicampur dengan sabun. Ukuran kesadahan air dinyatakan dalam ppm (satu per sejuta bagian). Bila ion kalsium dititrasi dengan EDTA, terbentuk suatu kompleks kalsium yang relatif stabil.
Ca2+ + H2Y2-  CaY2- + 2H+
Pada percobaan ini seharusnya larutan sampel jika dititrasi akan mengalami perubahan warna dari merah anggur menuju biru. Hal itulah yang menjadi bukti bahwa terdapat kesadahan di dalam sampel air yang digunkana. Namun ternyata pda percobaan ini, air sampel yang digunakan langsung berubah menjadi biru setelah ditambahkan indikator EBT-NaCl. Titrasi in sendiri seharusnya dilakukan pada pH 10 dan konstan sepanjang titrasi. Sedangkan EBT-NaCl itu sendiri dapat menjadi indikator logam dapat juga mnejadi indiktor pH. Oleh karena itu, pH larutan perlu dijaga dengan menambahkan larutan buffer pada larutan yang akan dititrasi. Seperti kita ketahui air yang sadah berarti mengandung ion Ca2+ dan Mg2+. Ion Ca2+ akan lebih dahulu bereaksi dan kemudian disusul dengan ion Mg2+ sehingga menimbulkan perubahan warna dari merah menjadi biru. Reaksi pada ion Mg2+yang akan terjadi sandainya dialakukan penitrasian adalah :
MgD- (merah) + H2Y2-  MgY2- + HD2- (biru) + H+
Adanya perubahan warna dari merah anggur menjadi biru pada tanpa penitrasian pada percobaan ini mungkin disebabkan oleh adanya pengompleks yang lebih kuat di alam (dalam sampel air sumur), atau mungkin juga memang di dalam sampel tersebut tidak memiliki atau mengandung ion Ca2+ dan Mg2+.







BAB V
KESIMPULAN


Berdasarkan hasil praktikum, serta apa yang penyusun tulis atau sampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :

 Titrasi kompleksometri disebut juga kelatometri yakni titrasi yang berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion).

 Konsentrasi (Normalitas) yang didapat untuk Larutan Na2EDTA adalah 0,1 M.

 Volume yang didapat saat Penentuan Kadar Ca2+ Dalam CaCO3 0,1 M yaitu:
1) 2,00 mL
2) 1,35 mL
3) 1,70 mL
Sehingga kadar yang didapat adalah 6,72 %.

 Volume yang didapat saat Penentuan Kadar Mg2+ Dalam MgSO4 . 7H2O 0,1 M yaitu:
1) 14,22 mL
2) 14,04 mL
3) 14,00 mL
Sehingga kadar yang didapat adalah 13,90 %.








DAFTAR PUSTAKA


Rahmania, Inti. 2007. Modul Praktikum Kimia Analitik - Kompleksometri. Bandung: Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Al-Ghifari

Fatasya, Syifa, dkk. 2007. Laporan Prakerin Analisis Air Minum Secara Fisika dan Kimia di Laboraorium Air-Pusat Lingkungan Geologi (Kesadahan). Bandung: Pusat Lingkungan Geologi – Badan Geologi – Departemen Energi Dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia

Pergiwati, Iwa. 2008. Modul Kompetensi Titrimetri - Kompleksometri. Bandung: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Bandung

Rusmana. 2008. Jurnal Kimia Analisa (Penentuan Kadar Ca Dan Mg Secara Kompleksometri. Bandung: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Bandung

Hendrayana, Taufik. 2009. Laporan Kompleksometri. (online) http://www.x3-prima.com/ 2009/09/laporan-argentometri.html (25 Juni 2011)

Basset, J. dkk. 1994. Vogel-Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC.











LAMPIRAN

GAMBAR :


Gambar. Alat yang dibutuhkan Gambar. LSS Na2EDTA




Gambar. Sampel + Buffer + EBT Gambar. TA  Biru